PSX_20170209_103352

Author : D’

Cast : Tiffany Hwang, Kim Taeyeon, Others

Genre : Girl x Girl

============

Ada beberapa orang yang merasa bangga saat mereka menjalin hubungan dengan seorang musisi terlebih jika mereka adalah vokalis dari sebuah band terkenal. Namun tidak jarang juga sebagian lainnya merasa tersiksa ketika mereka menjalin hubungan dengan orang-orang yang memiliki profesi tersebut.

Lalu saat orang-orang bertanya bagaimana dengan dirimu?

Kau tidak dapat memberikan jawaban pasti. Tentu saja kau bangga tapi kau juga merasa tersiksa.

Dan saat mereka bertanya apa alasannya. Maka kau lebih dari senang untuk menjelaskannya. Setidaknya agar mereka yang selalu ingin berpacaran dengan seorang musisi dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu dan banyak belajar dari pengalamannya.

  1. Kau akan sering memberikan ciuman selamat tinggal untuknya seakan itu adalah hal yang biasa.

Kau tidak pernah menyukai sebuah perpisahan. Namun ironisnya, selama kau berpacaran dengan seorang musisi kau harus selalu memberikan sebuah ciuman perpisahan. Kau bahkan tidak bisa mengeluh akan hal itu karena sebelum kalian menjalin hubungan pun dia sudah menjalani rutinitas tersebut. Jadi itu konsekuensi yang harus kau jalani saat kau menerima pernyataan cintanya.

Tidak ada yang bisa kau lakukan selain rela berpisah darinya sesering mungkin. Perform on-air, off-air, music show, radio show, sampai variety show adalah musuhmu. Lalu setiap satu tahun sekali dia akan mengadakan konser asia, eropa sampai dunia bersama bandnya.

Dan kau membencinya. Sangat.

“jangan cemberut seperti itu atau aku akan menciummu” Dia berbicara sambil melipat pakaiannya yang akan dibawa untuk konser kali ini.

“Kau akan meninggalkanku. Dan lebih parahnya lagi, kau pergi di saat kita sudah merencanakan anniversary date kita hari minggu nanti.”

Kau bisa melihatnya menghela nafas berat. Kau tahu dia menyesal dan sama-sama tidak menginginkan hal tersebut tapi ini tentang bandnya, karirnya dan juga karir teman-temannya, jadi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia harus merelakan salah satunya, yaitu dirimu. Selalu dirimu.

Taeyeon memutar tubuhnya, dengan lutut yang menyentuh lantai dia meletakkan kedua tangannya di atas pahamu. Dia menatapmu cukup lama sebelum memberikan sebuah senyuman manis untukmu.

“aku janji, aku akan kembali tepat di hari anniversary kita.” Ucapnya.

“sungguh?”

“sungguh. Cross my heart.”

Kau tersenyum melihat cengiran kekanakannya itu. Kau pun menundukkan kepalamu padanya, menatap mata coklatnya yang menenangkan. Kau mungkin membenci pekerjaannya, tapi kau tidak akan pernah bisa membencinya.

“kalau begitu, aku akan menunggumu.” Kau membalas seraya mencium bibirnya. Ciuman yang lembut untuk kalian berdua dan juga ciuman terakhir untuk beberapa hari ke depan.

Tapi sepertinya kau harus mulai belajar untuk tidak terlalu banyak berharap karena saat hal itu tidak terwujud maka kau hanya akan mendapatkan kekecewaan besar. Kau harusnya tahu kalau Taeyeon tidak akan bisa menepati janjinya. Lagipula apa yang lebih penting baginya selain bandnya itu, perayaan anniversary ini hanya hal bodoh baginya dan kalian bahkan sudah merayakannya untuk yang ketiga kali, jadi dia mungkin tidak akan berpikir hari ini sangatlah penting.

Kau terus memandangi ponselmu yang tergeletak tak berdaya di atas meja makan. Kau sama sekali tidak berniat menyentuhnya karena tidak ada alasan bagimu untuk melakukannya. Pandanganmu pun beralih ke jam digital yang sudah menunjukkan pukul 23.50.

Kau menghela nafas pelan. Dalam waktu kurang dari 10 menit hari akan berganti yang artinya hari annyversarymu pun sudah berakhir. Kau meraih pemantik dan menyalakannya. Dengan berhati-hati kau membakar tali kecil yang terpasang di atas lilin yang menghiasi kue buatanmu. Kue yang sengaja kau buat untuk kau nikmati berdua dengan kekasihmu yang sayangnya tidak datang.

Empat batang lilin itu kini sudah menyala. Ke sepuluh jarimu pun sudah terkait satu sama lain di depan dadamu. Dengan mata yang terpejam kau mencoba mengatakan permintaanmu kepada Tuhan untuk menjaga kekasihmu dimana pun kini dia berada. Hanya itu harapanmu saat ini dan itu yang terbaik bagimu.

Kau membuka matamu dan menatap kosong ke arah lilin-lilin itu. Sebuah senyum kecil terukir di bibirmu sebelum kau memajukan tubuh dan kepalamu lalu meniup dua api dari lilin yang kau tancapkan di sisi kiri kue. Sedangkan dua lilin lain di sisi kanan kue, kau biarkan orang lain untuk meniupnya.

“kau harusnya menunggu kekasihmu untuk meniup lilin-lilin ini.”

“kekasihku bahkan tidak ingat dengan hal ini.” tanganmu bergerak untuk memotong kue strawberry itu dan meletakkannya di atas sebuah piring kecil.

“bagaimana kau tahu?”

“karena dia tidak mengatakan apapun meski hanya sekedar ucapan happy anniversary

“mungkin karena dia ingin memberikanmu kejutan.”

Kau tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan. Kau membiarkan Taeyeon duduk di sampingmu dan meraih tanganmu lalu menciumnya.

Happy Anniversary, Princess. Aku mencintaimu.”

Kau mengecup bibirnya sebelum menjawab, “aku juga mencintaimu juga, Tae”

Kekasihmu pun merengkuh tubuhmu ke dalam pelukannya sambil sesekali mencium puncak kepalamu.

“maafkan aku.” Ucapnya.

Kau hanya menggumam menerima permintaan maafnya.

Karena kau tidak pernah bisa marah padanya.

Apalagi membencinya.

Tidak akan pernah.

  1. Kau kemungkinan harus mendengar lagu-lagu tentang mantan mereka.

Hal baik dari menjalin hubungan dengan seorang musisi adalah kau bisa mendengar lagu ciptaan mereka sebelum orang lain bahkan para anggota bandnya. Tidak hanya mendengar tapi mereka juga akan sangat mengharapkan penilaianmu. Dan di saat seperti itulah kau akan bertingkah seperti pengamat musik professional baginya.

“kau tahu Tae, aku rasa kau harus mengganti lirik di bagian ini.”

Tanganmu menunjuk ke barisan kalimat yang ada di atas selembar kertas milik kekasihmu. Kalian berdua kini sedang duduk di kasur, saling berhadapan dengan dirinya yang tengah memeluk gitar. Dia baru saja menyanyikan lagu barunya padamu dan seperti biasa dia akan meminta pendapatmu.

“memangnya kenapa?” tanyanya bingung.

“kurang depresi.” Kau mencoba memberikan penjelasan tersingkat. Dia terlihat semakin bingung dan kau mulai memberikan pendapat lagi.

“bagaimana jika lirik ‘I’m going crazy’ kau ganti dengan ‘you got me smoking cigarette’? lebih menggambarkan bagaimana depresi dan stressnya dirimu di lagu itu.”

Kau terlonjak kaget saat Taeyeon tiba-tiba menyingkirkan gitar dari pangkuannya dan mendorong tubuhmu ke belakang. Kau hanya bisa memejamkan matamu dengan sangat erat saat dia menciumi setiap sisi wajahmu berkali-kali.

you’re my hero babe” ucapnya penuh kegembiraan.

Namun hal buruknya adalah setiap musisi selalu membuat lagu berdasarkan pengalaman hidup mereka dan Taeyeon adalah salah satunya. Kau mengakui seluruh lagu-lagu kekasihmu sangatlah indah dan selalu menghipnotis siapapun yang mendengarnya tapi kau tidak pernah suka melihat kekasihmu saat membawakan sebuah lagu yang berhubungan dengan mantan kekasihnya. Karena dia akan membawakannya dengan penuh penghayatan. Penonton akan terpukau tapi hatimu justru terbakar. Dan itu sangat menyebalkan.

baby.. come here

Kekasihmu memanggil dengan sangat antusias saat kau baru pulang bekerja. Dia menepuk-nepuk tempat kosong di sofa sebagai isyarat untuk menyuruhmu duduk di sampingnya. Meski kau tahu tubuhmu sudah lelah dan membutuhkan istirahat tapi melihat ekspresi antusias kekasihmu kau tidak mampu mengabaikannya begitu saja. Jadi kau meletakkan tasmu di meja kopi dan menggantung coatmu di lengan sofa lalu duduk menghadapnya.

“ada apa?” kau bertanya.

“aku baru saja menciptakan sebuah lagu, kau mau dengar” Itu lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan dan sebagai kekasih yang baik, tentu saja kau tidak menolak.

sure.”

Kau tertawa kecil saat melihat senyum kekanakannya muncul. Dia memposisikan gitarnya dengan nyaman sebelum menggerakkan jemarinya untuk memetik senar-senar itu sampai mengalun sebuah melodi yang indah.

Not me

It won’t be easy for me

Still, you fill up my days

Not yet

I tell myself, like a fool

I can’t swallow the words that

Linger in my mouth

It’s not fine

Ah~ Ah~ Ah~ Ah~ it’s not fine

Setelah kau mendengar nyanyiannya, kau jelas masih ingat cara bernafas tapi sepertinya kau lupa caranya berbicara. Tidak ada yang kau lakukan selain menatapnya dengan penuh takjub. Terkadang kau berpikir, kemana hilangnya sosok menyebalkan dan kekanakan kekasihmu saat dia sudah mulai bernyanyi dengan gitar kesayangannya itu.

“bagaimana, Fany-ah?” dia akhirnya bertanya. Merasa sedikit takut kalau kau tidak menyukainya karena tidak ada respon yang kau berikan.

Oh god Tae itu bagus sekali. Wow, kau harus segera merilisnya, lagu itu benar-benar sempurna.” Kau menjawab dengan sangat antusias.

jinjja? Kau sedang tidak mengerjaiku kan?”

“aku serius, midget.”

Dia merilekskan bahunya seraya menghela lega. “aaah thanks, princess.”

Kau mulai memperhatikan kekasihmu kembali. Kau bahkan lupa dengan rasa lelahmu beberapa waktu lalu karena yang ingin kau lakukan saat ini hanyalah mendengar kekasihmu memainkan lagu barunya dan yang mengejutkanya, kau sangat menyukai lagu itu.

“bagaimana kau bisa membuat lagu sebagus itu? Maksudku, semua lagu-lagumu bagus tapi yang ini, aku bahkan langsung menyukai hanya dengan satu kali mendengar saja.”

Taeyeon menghentikan petikan gitarnya lalu menatap wajahmu. Kau bisa melihat ekspresi bahagia dari wajahnya dan membuatmu tidak sabar untuk mendengarkannya.

“kau tahu kan, hari ini harusnya aku latihan tapi Soo dan Yul tiba-tiba tidak bisa datang jadi kami mengganti jadwalnya menjadi besok. Karena aku bosan tidak melakukan apa-apa jadi aku bereskan saja studio ku karena aku tidak ingin kau terus mengomeliku saat melihat kondisi tempat itu.”

Kau tersenyum kecil. Studio kekasihmu memang tempat yang tidak pernah ingin kau masuki.

“dan saat aku membersihkan studio. Aku menemukan sebuah kotak, aku lupa itu kotak apa jadi aku buka saja. Dan kau tahu Miyoung-ah, ternyata isinya foto-foto Polaroid yang aku ambil bersama Jessica dan aku malah bernostalgia dengan foto-foto itu. Lalu……”

Kau tidak lagi mendengar ocehan kekasihmu karena saat ini kau sibuk berharap tatapanmu bisa membunuh kekasihmu yang bodoh itu. Dia bahkan tidak sadar dengan wajahmu yang memerah dan tanganmu yang menggenggam erat bantal sofa dengan penuh amarah.

“Miyoung, kau dengar aku?”

Oh, tentu saja tidak.

you stupid bastard!” kau akhirnya melepaskan emosimu dan memukul wajah Taeyeon menggunakan bantal sofa. “Kau membuatku mendengarkan lagu tentang mantan kekasihmu?! Wanita yang membuatmu mabuk setiap malam sampai akhirnya kau melihatku lalu membuatku tidur denganmu di pertemuan pertama kita!!”

“tapi waktu itu kan kita sama-sama mabuk”

Kau kembali memukulnya meski dia berkata benar.

“lagipula jika bukan karenanya, kita tidak akan bisa bertemu kan?”

Kau tidak lagi memukulnya tapi langsung melemparkan bantal itu ke wajahnya. Dia berhasil menangkap bantal itu lalu tertawa keras karena melihat dirimu yang kesal dan terlihat seperti wanita gila karenanya.

Dan kau berpikir, apakah tawa itu akan berlangsung lama.

“Kim Taeyeon, jangan dekat-dekat denganku, jangan sentuh aku, jangan tidur denganku. Tidur di sofa untuk seumur hidupmu!!”

Jawabannya, tawa itu langsung lenyap dalam sekejap. Kau ingin tertawa saat melihat ekspresi kaget yang dia berikan setelah mendengar kata-katamu, namun kau harus menahannya. Kau pun memilih untuk pergi dan mengabaikan permohonan maafnya. Untuk kali ini kau tidak akan menyerah begitu saja padanya.

Tapi kau memang terlalu suka mengkhianati dirimu sendiri.

Karena keesokan harinya kau menemukan dirimu sendiri tengah tertidur di sofa sambil memeluk dirinya.

  1. Kau harus rela berbagi cinta darinya.

Peralatan musik

Pahlawan musiknya

Band

Ketiganya adalah The Holy Trinity versi kekasihmu.

The heck, kau bahkan tidak masuk di dalam daftar.

Karena itu, saat kalian memutuskan untuk tinggal bersama, ada satu hal yang membuatmu menyesal telah menyetujui ide tersebut. Kau memang membiarkannya membawa beberapa barangnya yang penting dari dormnya ke apartemen kalian tapi kau tidak tahu jika barang penting versi kekasihmu itu adalah dua buah gitar akustik, keyboard beserta table standnya dan alat-alat lain yang kau tidak ketahui namanya. Sehingga, kau merelakan ruang kerjamu diubah menjadi studio mini untuknya.

Dia juga sangat rajin membersihkan peralatan-peralatan tersebut, bahkan kau tidak akan bisa melihat setitik debu pun bersarang di benda-benda kesayangannya itu. Namun yang membuatmu kesal adalah dia tidak serajin itu untuk urusan rumah. Dia tidak akan peduli dengan isi kulkas yang kosong maupun meja tv yang berantakan dengan dvd atau kaset-kaset gamenya jika kau belum berteriak menyuruhnya untuk merapikannya.

Selain itu terkadang kau juga berpikir, dengan siapakah sebenarnya kau tinggal di apartemen tersebut. Dengan kekasihmu, Kim Taeyeon atau dengan Kurt Cobain, karena banyaknya poster pria itu bersarang di setiap sudut kamarmu.

Awalnya kau merasa biasa saja tapi lama-lama kau merasa seperti selalu diawasi oleh tatapan pria itu apalagi saat kalian sedang bercinta. Seriously.. itu rasanya seperti kau ketahuan berbuat hal-hal yang tidak pantas oleh ayahmu sendiri. Awkward.

Karena itulah kau memutuskan untuk melepas seluruh poster milik kekasihmu dan berbohong kalau kau sudah membuangnya. Tapi berakhir dengan dirinya yang mogok makan dan akhirnya jatuh sakit. Dia baru sembuh saat kau mengatakan kalau poster itu masih kau simpan dan akan kau pasang lagi jika dia mau makan.

Hhhh~ benar-benar menyebalkan.

Kau juga tidak akan pernah bisa mengajaknya pergi jika dia sudah mempunyai jadwal bersama dengan para anggota bandnya. Oke, mungkin jika itu perform kau bisa memakluminya tapi jika hanya latihan bukankah dia bisa menggantinya menjadi hari lain. Tapi Taeyeon tidak pernah mau melakukannya. Dia berpendapat, jika sebagai leader saja dia tidak bisa mematuhi peraturan dengan baik, bagaimana dia bisa memimpin anggotanya untuk menjadi lebih baik. Dan kau hanya bisa memutar bola mata saat mendengarnya berbicara seperti itu.

“demam mu belum juga turun, Miyoung-ah. Apa kita perlu ke dokter?” tanyanya sambil memeras kain yang sebelumnya dia rendam di air dingin lalu meletakkannya di keningku.

Kau menggeleng lemah. “tidak perlu. Besok pasti akan membaik.” Kau membalas lalu menepuk-nepuk sisi kosong di kasurmu.

“berbaringlah, Tae. Aku ingin memelukmu sambil tidur.”

Dia menggigit ujung bibirnya dan menatapmu dengan tatapan yang tidak pernah kau sukai. Tatapan ragu.

“hmm mian Miyoung-ah, aku harus latihan hari ini.”

Kau tahu hal itu karena dia sudah memberitahumu beberapa hari sebelumnya tapi…. Ahh kau bahkan terlalu lemah hanya untuk sekedar memohon padanya agar dia mau tetap menemanimu. Karena kau sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya. Dan karena kau sudah lelah dengan setiap penolakannya.

“kalau begitu pergilah. Mereka lebih membutuhkanmu daripada diriku.”

Kau pun memiringkan tubuhmu dan membelakanginya. Kau tidak ingin dia melihat sebulir air mata terjatuh dari matamu. Dan ketika ia benar-benar pergi meninggalkanmu, kau hanya bisa menghela nafas panjang.

Kau mencoba untuk tertidur tapi rasanya sungguh sulit. Tubuhmu panas dan kepalamu berdenyut keras. Sepertinya kau benar-benar butuh ke dokter. Kau menghela nafas lagi, biasanya kau hanya butuh Taeyeon tapi wanita itu justru tidak memedulikan kondisimu saat ini.

Kau menarik selimut lebih ke atas dan memeluk boneka dookong milik kekasihmu dengan erat. Kau rasanya ingin tertawa melihat kondisimu saat ini, bukannya memeluk kekasihmu tapi malah memeluk boneka kesayangannya.

“tidurlah Miyoung-ah. Aku di sini menjagamu.” Kau merasakan sebuah lengan melingkari pinggangmu dari atas selimut. Dengan secepat kilat kau membalikan tubuhmu lalu menatap kekasihmu yang kini tersenyum lembut ke arahmu.

“kau tidak pergi?”

“tidak. Aku sudah meminta ijin anggotaku untuk membatalkan latihan hari ini.”

“mereka tidak marah?”

“mereka malah mengancam akan mengusirku kalau sampai aku datang ke studio dan meninggalkanmu sendirian.”

Kau tidak lagi bertanya dan memilih untuk membenamkan wajahmu di dadanya. Memeluknya dengan erat, lebih erat dari saat kau memeluk boneka dookong itu.

Sekarang kau pun tahu. Kau mungkin memang tidak masuk ke dalam daftar The Holy Trinity miliknya tapi kau selalu menjadi yang paling utama di daftar hidupnya.

  1. Seleramu dalam musik pastinya akan berkembang tapi jangan pernah kau berharap untuk meyakinkan mereka menyukai lagu-lagu yang ada di playlistmu sebelum kalian berpacaran.

Akan selalu ada kebanggaan tersendiri saat kau mengetahui suatu hal yang orang lain tidak ketahui dan itu juga berlaku dalam hal musik. Memiliki kekasih seorang musisi membuatmu memiliki puluhan lagu yang memanjakan telingamu juga telinga orang-orang di sekitarmu. Bahkan tidak jarang mereka meminta lagu tersebut darimu karena itu adalah pertama kali mereka mendengarnya dan langsung menyukainya. Dan jangan lupa, kau juga bisa mempromosikan lagu kekasihmu sendiri.

Kau ingat bagaimana teman-temanmu selalu meminjam ponselmu lalu menyetel lagu dari playlistmu ke speaker mobil. Mereka semua setuju kalau lagu-lagu yang kau punya lebih baik dari yang mereka miliki.

The girl who can’t say goodbye

The boy that can’t leave

The two of us are no longer in love

So no no no no no no

“aaah lagu ini benar-benar menyentuh” temanmu, Sunny, memberikan komentar dengan tangan yang masih menggenggam setir mobil.

“benar.. kenapa aku tiba-tiba merasakan sedih, hampa, dan putus asa ya saat mendengar lagu ini.” timpal temanmu yang lain, Yoona, sambil terus memakan snack yang dibawanya.

Kau menghela nafas untuk mengejek mereka. “dasar wanita-wanita ketinggalan jaman. Ini lagu lama dan sangat populer, masa kalian baru tahu? Makanya jangan hanya mendengar lagu-lagu di klub saja.”

Dan kau berhasil mendapat tepukan kencang di kepala belakangmu setelah mengatakan itu.

“kau tahu lagu ini juga pasti dari Taeyeon, kan? Tch” kau menyengir malu. Mereka benar, kau bahkan tidak akan tahu lagu itu ada jika kekasihmu tidak memutarnya saat di apartemen kalian.

“dan aku berani bertaruh, jika Taeyeon tahu lagu-lagu apa saja yang menjadi playlist wajibmu sebelum kalian berpacaran, dia pasti akan langsung sakit kuping mendengarnya.”

Kau mendengus pelan. Bukan karena tidak setuju dengan cibiran mereka tetapi karena apa yang mereka katakan itu benar dan sudah pernah terjadi.

Kau tidak dapat melupakan bagaimana ekspresi kekasihmu saat dia mendengarkan lagu-lagu yang ada di playlist laptopmu. Saat itu kalian baru menjalin hubungan sekitar satu bulan. Dia meminjam laptopmu untuk mengirim e-mail kepada manajernya tapi berakhir dengan mengotak-atik isi laptopmu.

“kau…. mendengarkan lagu ini?” dia bertanya dengan nada tak percaya padamu. Jemarinya kembali bergerak untuk memilih lagu lainnya. Keningnya berkerut dengan kepala yang sedikit dimiringkan. Tidak berapa lama dia melepas earphone yang dikenakannya dan mencabut benda itu dari laptop.

“Fany-ah… selera musikmu benar-benar mengerikan.”

Dan kau bersumpah tidak akan pernah meminjamkan laptopmu lagi padanya.

  1. Akan sangat sulit bagimu untuk memberikan reaksi terhadap pekerjaan mereka.

Saat kau berpikir penampilan mereka bagus, mereka justru berpikir itu mengerikan. Dan jika kau berpikir itu aneh, mereka justru terlihat bangga dengan penampilannya. Karena kau memberikan penilaian dari kacamata penonton bukan penampil. Terlebih kau adalah penonton yang biasa saja, tidak masuk ke dalam fans hardcorenya.

you did great, baby.” Kau memujinya setelah dia turun dari panggung. Kau membersihkan peluh yang membanjiri wajah kekasihmu dengan handuk kecil yang kau bawa.

No. It’s awful. In-ear ku tidak berfungsi dan soundnya juga tidak bagus.”

“ya, tapi kau berhasil menyelesaikan penampilanmu dengan sangat baik. Orang-orang akan melihat ke profesionalitasanmu.”

“tidak Fany-ah. Aku mengecewakan fansku.”

Kau tidak lagi berkomentar. Mungkin karena kau tidak mengerti apa-apa tentang musik maka kau tidak tahu bagaimana penampilan yang baik menurut kekasihmu. Jadi, kau hanya bisa menggenggam tangannya dengan erat dan tersenyum lembut untuk sekedar membuatnya merasa lebih baik.

Lalu saat kau benar-benar merasa penampilan kekasihmu saat itu sangat buruk kau pun juga merasa buruk. Kau tidak siap harus melihat ekspresi kecewa lagi darinya. Tapi kau sudah siap untuk menyambutnya dan memberikan kata-kata penghibur untuknya.

“kau melihat penampilanku tadi kan, Miyoung?”

“ya” kau mulai bersiap memberikan kata-kata penyemangat untuknya sebelum dia kembali berbicara dan membuat seluruh rangkaian kata-kata mutiara di kepalamu hilang.

“Bagaimana penampilanku? Aku keren, kan? I hit the high note!!”

“umm well… you did but…. Sepertinya aku mendengar suaramu crack sedikit tadi. Tapi hanya sedikit, benar” kau menekankan kata ‘sedikit’ karena tidak ingin membuatnya merasa buruk. Kekasihmu kini menaikkan satu alisnya kepadamu dan kau mulai merasa bersalah.

Jinjja? Kau pasti bercanda. Aku tidak merasakan suaraku crack, mungkin itu salah sound systemnya sehingga terdengar seperti itu.”

Kau mengerutkan dahimu seraya memperhatikan kekasihmu yang masih tersenyum lebar. Wanita berambut pirang pendek sebahu itu kini tengah menyalami satu per satu staff yang mengucapkan selamat padanya.

Kini kau tahu, bukan dirimu atau soundnya yang bermasalah. Tapi telinga kekasihmu lah yang memiliki masalah.

  1. Kau akan merasa aneh saat melihat kekasihmu menjadi tontonan di dalam keramaian.

Para penonton terbiasa melihat kekasihmu dalam kondisi yang sempurna. Bernyanyi dengan sepenuh hati diiringi anggota bandnya, dibanjiri keringat yang membuatnya terlihat menggoda. Jaket kulit hitam dan riped jeans selalu menjadi daya tariknya. Tapi apa mereka tahu jika wanita yang mereka puja-puja itu tidak lebih dari seorang anak kecil manja yang menggemaskan di matamu.

Jaket kulit hitam dan riped jeans itu akan berganti menjadi training pants dan sweater polos yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Nyanyiannya yang penuh dengan nada-nada tinggi pun akan berubah menjadi rengekkan yang tidak akan pernah bisa kau abaikan.

“Miyoung-ah” kau menghela nafas pelan untuk kesekian kalinya karena kekasihmu terus mengganggumu.

“Taeyeon, aku harus menyelesaikan laporanku hari ini, kalau tidak aku bisa dimarahi bosku nanti.”

“jadi kau lebih takut bosmu marah daripada aku yang marah?”

Kau langsung mengalihkan pandanganmu dan hampir tertawa saat melihat caranya merajuk. Kedua pipinya digembugkan dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Dia juga memalingkan wajahnya darimu.

Kau jadi bertanya-tanya bagaimana bisa kekasihmu mendapat julukan ‘badass Taeng’ dari fansnya padahal kenyataannya dia hanyalah seorang ‘baby Taeng’ untukmu.

Kau pun menggeleng pelan lalu mematikan laptopmu. Kau bisa melihat dari ujung matamu kalau kekasihmu tersenyum sangat lebar karena kau lebih memilih dirinya.

so TaeTae… aku sudah menyingkirkan pekerjaanku jadi cepat katakan apa yang kau inginkan sebelum aku berubah pikiran.”

movie time!” serunya. Kau menghela nafas pasrah. Kau harusnya tahu hal itu saat melihat beberapa kotak dvd yang masih tersegel di tas ransel kekasihmu.

“oke.” Kau turun dari kasur dan beranjak menuju ruang TV bersama kekasihmu yang terlihat sangat gembira.

“mau aku buatkan cokelat hangat atau juice, Tae?” kau beralih menuju dapur saat Taeyeon menyiapkan segalanya di depan televisi.

ice cream!” teriaknya. Lagi-lagi kau menggeleng namun tetap membuka kulkas dan mengambil satu bowl ice cream kesukaan kekasihmu. Setelah itu kau menghampirinya dan duduk di sofa lebih dulu. Dia mengambil ice cream itu dari pangkuanmu lalu menggantinya dengan kepalanya.

Sepanjang film, kekasihmu tidak pernah berhenti memberi komentar meski itu hanya “ooh”, “aah”, “wow” atau “woaah” sedangkan tangannya juga tidak berhenti menyuapkan ice cream ke mulutnya atau padamu.

Kau sendiri tidak berhenti mengelus rambutnya dan tertawa kecil pada setiap celotehan yang dia lontarkan.

“kau tahu Tae, rasanya sangat aneh melihatmu kekanakan seperti ini sedangkan saat di atas panggung kau terlihat seperti wanita paling fierce yang pernah ada.”

Kekasihmu tertawa. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap matamu.

“mana yang lebih kau suka, saat aku di rumah atau saat aku di atas panggung?”

“aku suka saat kau di rumah ataupun di atas panggung, yang tidak aku suka adalah saat kau baru saja turun dari panggung.”

Tawa kekasihmu kembali terdengar karena dia tahu alasan mengapa kau mengatakan hal itu.

Backstage adalah tempat yang paling tidak kau sukai. Tempat itu tidak membuatmu senang. Apalagi jika dia sudah terjebak di antara penggemarnya yang agresif saat meminta tanda tangan kekasihmu, yang lebih terlihat seperti ajang mencari kesempatan bagi mereka untuk menggoda kekasihmu.

“Taeyeon aku datang ke sini bersama kekasihku.”

“ohya?”

“iya, ini dia”

Kau mengerutkan dahimu saat wanita berambut merah itu menunjukkan sebuah cermin kepada kekasihmu.

“oh… dia sangat cantik.”

“Taeyeon aku mentato namamu di bahuku.”

Kau rasanya ingin menarik rambut wanita pirang itu saat dia menurunkan bajunya terlalu ke bawah hanya untuk menunjukkan tato yang ada di bahunya.

“wow.. itu sangat keren. Thanks.”

“Taeyeon, malam ini rumahku kosong. Kau mau mampir sebentar? Kau boleh mengajak anggota bandmu juga.”

ne?”

Cukup. Kau sudah melihat dan mendengar terlalu banyak. Kau pun menarik tangan kekasihmu dan menatap tajam wanita jalang itu.

“Taeyeon sudah memiliki jadwal lain. Dia harus perform untukku… di kamar hotel kami.”

Kau masih ingat bagaimana ekspresi kaget wanita itu setelah kau mengatakan hal tersebut di depan wajahnya. Kau merasa menang saat itu.

“kau milikku Tae. Ingat itu.”

“Selalu Miyoung-ah.”

Kalian tidak berniat untuk meng-copy adegan yang kalian tonton tapi…. Spiderman Kiss memang hal yang terbaik untuk kalian lakukan.

  1. Quality time hanya untuk kalian berdua itu adalah suatu keberuntungan (yang jarang kau dapatkan)

Kau selalu memahami situasi kekasihmu terutama mengenai pekerjaannya. Bukanlah hal yang mudah untuk bisa terus bersamanya tanpa ada gangguan dari orang lain. Maka dari itu kau akan sangat menghargai waktu yang kalian habiskan berdua saja meski itu hanya di dalam rumah kalian.

Kau tahu kau tidak dapat menuntut banyak karena kau tidak ingin menambah beban kekasihmu namun kau juga seorang wanita pada umumnya. Kau juga menginginkan sebuah makan malam romantis, berdansa, stargazing, apapun itu asal berdua dengannya dan tidak hanya di dalam rumah kalian saja.

Jadi, saat kekasihmu menelepon dan mengatakan kalau kalian akan makan malam berdua di luar, kau langsung berteriak kegirangan. Kau segera membuka lemari pakaianmu dan mengeluarkan seluruh pakaian terbaikmu namun hal itu justru membuat pusing karena sekarang kau bingung akan mengenakan yang mana. Dan pilihanmu pun jatuh pada gaun hitam tanpa lengan yang melekat pas ditubuhmu dan memperlihatkan bahumu yang putih.

Kau menunggu dan terus menunggu. Mengecek make-up setiap beberapa menit karena takut kau merusaknya. Namun seberapa seringnya kau menyempurnakan riasanmu, seseorang yang paling ingin kau tunjukan tidak kunjung datang. Kau terus menelepon kekasihmu saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, waktu yang kekasihmu janjikan untuk menjemputmu dari apartemen. Tapi entah sudah berapa kali kau mencoba meneleponnya, panggilanmu tidak pernah dijawab olehnya karena tiba-tiba nomor kekasihmu tidak aktif.

Kau pun mulai khawatir. Kau mulai membayangkan hal yang tidak-tidak tentang kekasihmu. Kau mencoba menghubungi anggota band kekasihmu tapi ponsel mereka juga tidak aktif.

Suara pintu terbuka langsung membangunkanmu. The hell, kau bahkan tidak tahu kalau kau tertidur saat menunggu kabar dari kekasihmu. Masih dengan memakai gaun dan riasan lengkap, kau pun bangkit dari sofa dan melihat siapa yang datang. Kau sempat melihat jam dinding menunjuk ke pukul 11 malam.

“Fany-ah! maaf aku pulang larut. Aku dan agensiku baru saja mengadakan barbeque party untuk merayakan kesuksesan album baruku dan…. Mengapa kau memakai gaun Fany-ah?”

Kau tidak menjawab pertanyannya. Kau hanya berdiri diam di sana, merasa seperti manusia paling bodoh di dunia. Saat kekasihmu mulai sadar apa yang terjadi, kau pun tetap diam tak berekspresi.

“ooooh shit! Fany-ah maafkan aku. Aku benar-benar lupa dengan janji makan malam kita. Soo Man sajangnim mengadakan pesta itu tanpa pemberitahuan lebih dulu, jadi aku tidak sempat memberitahumu. Maaf Fany-ah”

“aku bahkan tidak tahu harus kecewa atau tidak Taeyeon-ah karena ini bukanlah yang pertama kali kau melupakanku.”

“aku tidak melupa…”

“sudah.. jangan memberi alasan Taeyeon-ah. Kau sendiri yang mengatakan sebelumnya kalau kau lupa dengan janji kita.” Kau berusaha memberikan senyumanmu padanya tapi air matamu sudah lebih dulu mengkhianatimu.

“bersihkan tubuhmu dan beristirahatlah Taeyeon.”

Kau menghapus air mata di pipimu seraya berbalik dan meninggalkan kekasihmu yang mematung. Kau ingin memberitahunya bahwa kau tidak apa-apa tapi kau tidak ingin membohongi dirimu sendiri karena saat ini persaaanmu sungguh tidak dalam keadaan yang baik. Kau tidak pernah merasa sekecewa itu kepadanya meski kau tahu dia memiliki alasannya sendiri. Tapi mendengarnya berkata bahwa dia melupakan janji kalian berdua dengan begitu mudahnya, membuatmu berpikir bahwa kau tidaklah penting baginya. Oleh karena itu memberitahukan perasaanmu padanya pun akan sia-sia belaka.

Guncangan kecil itu membuatmu terbangun. Semakin lama kau merasa guncangan itu semakin keras, bahkan kau dapat merakan tubuh bergoyang ke kiri dan ke kanan karena guncangan tersebut. Kau membuka matamu lebih lebar dan semakin terkejut saat melihat kekasihmu sedang duduk di sebelahmu sambil menyetir. Kau langsung bangkit dari tidurmu dan melihat ke sekeliling. The hell.. bagaimana bisa kau berada di dalam mobil saat ini, seingatmu kau semalam menangis di kamar sampai tertidur.

“hey, kau terbangun?” kekasihmu bertanya.

Kau mengangguk dan membetulkan posisi sandaran kursimu menjadi tegak.

“kita mau kemana dan bagaimana aku bisa di sini?”

“hmm kita akan berlibur selama beberapa hari di resort temanku di dekat pantai Gyeongpo dan bagaimana kau bisa di sini? aku menggendongmu saat kau tertidur. Kau harus banyak makan Miyoung-ah tubuhmu sangat ringan sampai-sampai orang sekecil diriku mampu menggendongmu dari kamar kita sampai ke basement.” Kekasihmu memberikan senyuman padamu. Meski itu bukanlah senyuman yang biasa dia berikan untukmu. Ada pancaran kesedihan di balik senyum itu.

“kau tidak perlu khawatir dengan pakaianmu. Aku sudah mempackingnya dan jika ada yang kurang, kita bisa langsung membelinya di dekat resort. Aku juga sudah mengirim pesan ke manajer serta memberku kalau aku akan menghabiskan waktu bersamamu dan meminta mereka untuk tidak mencari kita selama beberapa hari karena aku akan menonaktifkan ponselku selama kita berlibur.”

“kau tidak perlu melakukan hal ini Taeyeon. Kau harus banyak berlatih dengan anggota bandmu untuk persiapan tur asiamu dan itu adalah hal terpenting yang harus kau……”

Kau tidak lagi melanjutkan kata-katamu saat Taeyeon menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Keheningan pun menyelimuti kalian berdua dengan kau yang sibuk memalingkan wajahmu seakan pemandangan gelap gulita di luar sana lebih menarik perhatianmu.

“kau juga penting bagiku, Miyoung-ah”

Suara kekasihmu terdengar sangat lemah dan kau pun tersadar satu hal. Jika dia menggendongmu saat tertidur dan melakukan seluruh hal yang dikatakannya, itu artinya kekasihmu belum beristirahat. Dan kau bahkan tidak tahu seberapa jauhnya jarak yang harus ditempuh oleh kalian berdua untuk sampai ke tempat tujuan.

Kau pun langsung menoleh ke arah kekasihmu. Dadamu terasa sakit saat melihat wanita di hadapanmu itu sedang menatapmu dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya terlihat sangat lelah.

“ku mohon Miyoung-ah, jangan pernah berpikir bahwa kau tidaklah penting bagiku. Kau adalah salah satu hal yang terpenting di dalam hidupku. Maafkaan aku Miyoug-ah. Aku tidak berniat untuk membuatmu berpikir demikian. Aku berjanji akan membayar seluruh kesalahanku dan aku tidak akan mengacaukannya kali ini”

Kau tidak lagi membiarkan kekasihmu berbicara karena kau tidak suka melihatnya mengeluarkan air mata. Kau menarik tubuhnya ke dalam dekapanmu dan membiarkan dia membenamkan wajahnya di lehermu, memberikan kehangatan dan ketenangan padanya.

Well, pada akhirnya kau memang tidak akan pernah bisa untuk marah terlalu lama padanya. Apalagi kali ini kekasihmu benar-benar membuktikan kata-katanya. Kalian menikmati liburan tersebut tanpa ada gangguan sama sekali.

  1. Orang-orang terdekatmu mempunyai respon berbeda mengenai mereka.

Saat pertama kali kau memberitahu sahabat-sahabatmu kalau kau berpacaran dengan seorang musisi sekaligus vokalis band terkenal mereka mengatakan kalau kau terlalu berhalusinasi. Lalu saat kau akhirnya berhasil membawa kekasihmu ke hadapan sahabat-sahabatmu, mereka justru menganggap bahwa mereka lah yang sedang berhalusinasi saat itu. Namun beberapa detik kemudian teriakan-teriakan heboh mulai memekakan telingamu dengan dirimu yang terdorong jauh dari kekasihmu karena makhluk-makhluk itu mulai sibuk berfoto bersama dengannya.

Selain itu, jangan lupa satu hal, mereka akan mulai membicarakan kekasihmu seolah-olah mereka tidak tahu kalau kau adalah kekasihnya.

“kalian melihat penampilan blownyx (pliss aku gatau harus ngasih nama band mereka apa wkwkwk) semalam? Waah mereka benar-benar keren”

“Yuri sangat mempesona. Untuk pertama kali dalam seumur hidup aku sangat iri dengan botol minum karena mereka bisa menyentuh bibir Yuri.”

Kau menatap aneh Yoona. Kau merasa dia mulai gila.

“apa tidak ada yang menyadari betapa kerennya Choi Sooyoung saat memukul drumnya selain aku? Aku tiba-tiba ingin berubah menjadi drumnya.”

Tatapan anehmu kini berpindah pada Sunny.

“dan Taeyeon!” mereka berseru bersama, kau pun mulai menaikkan satu alismu.

“apa kau lihat bagaimana dia melepas in-earnya saat sedang bernyanyi? Cool sekali eonni

matjji.. matjji.. dan saat dia menggigit bibirnya ughhh aku tidak bisa berhenti berteriak. Dia sungguh menggoda.”

“Ya! Itu kekasihku!!”

Sejujurnya kau lebih memilih mendengar sahabat-sahabatmu bertingkah selayaknya fangirl di hadapanmu daripada harus mendengar seseorang memberikan komentar buruk untuk kekasihmu di depan wajahmu dan akan lebih menyakitkannya lagi jika itu keluar dari mulut orangtuamu sendiri.

“jadi kau ditinggal sendiri lagi?” daddymu mulai bertanya saat kalian menyantap makan malam bersama.

“iya, dia ada tur asia.”

“kau harusnya berpacaran dengan orang lain Fany-ah. Orang yang lebih punya waktu untukmu.”

Kau menatap daddymu dengan malas.

dad.. kita sudah membicarakan hal ini bukan? aku mencintai Taeyeon dan aku akan menerima seluruh resikonya”

Daddy bahkan tidak tahu mengapa kau mau meneriman anak itu. Apa hanya karena dia seorang musisi dan vokalis terkenal?”

Dad, anak itu mempunyai nama dan namanya adalah Taeyeon.”

whatever.”

Kau memutar bola matamu. Terkadang daddymu bisa bertingkah lebih kekanakan dari dirimu karena sifat over protectivenya itu.

Dad.. aku mencintai Taeyeon dengan tulus. Aku bahkan tidak tahu dia seorang musisi saat itu karena dia baru terkenal di Korea saja”

daddy hanya tidak suka melihatmu kesepian baby. Kau harusnya tetap tinggal denganku di California.”

dad, percaya padaku, aku tidak kesepian. Lagipula apa bedanya daddy dengan Taeyeon. Daddy juga sering pergi meninggalkanku untuk mengurus pekerjaan kan?”

Kau pun merasa menang saat daddymu tidak lagi membantah kata-katamu.

“aku akan membunuhnya jika dia sampai berani menyakitimu.”

“tenang dad, sebelum kau melakukannya aku yang akan membunuhunya terlebih dahulu.”

  1. Terakhir, kau mungkin tidak menjadi fans terberat mereka tapi kau akan menjadi penyemangat terbaik mereka.

Kau mematikan televisi di depanmu seraya menghela nafas pelan. Beritanya sudah menyebar ke seluruh media dan banyak spekulasi yang bermunculan karenanya. Kau tidak tahu harus berbuat apa, bahkan untuk menghubungi kekasihmu saja kau tidak berani karena kau takut mengganggunya. Kekasihmu pasti sedang menjalani meeting besar di kantor agensinya. Sebuah meeting yang kau yakin tidak pernah ingin kekasihmu hadiri.

Blownyx to disband after 7 years together

Taeyeon will continue as soloist under SM

 

Kau terus menatap layar ponselmu. Hampir seluruh portal berita online yang kau kunjungi memasang Headline yang sama. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan kekasihmu dan fansnya saat ini.

Kau juga membaca satu persatu komentar di sns milik kekasihmu dan pada akhirnya kau menyesal telah melakukannya. Melihat banyak komentar yang menyudutkan kekasihmu membuat kau ingin membalas perkataan mereka namun kau harus menahannya karena kau tahu itu bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Kau bisa saja membuat suasana menjadi lebih panas nantinya dan orang-orang akan semakin membenci kekasihmu.

Kau pun menyingkirkan ponselmu. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan kau akan sangat jarang menggunakan benda itu. Setidaknya kau hanya akan menggunakannya untuk menelepon atau berbalas chat saja bukan untuk melihat portal berita online atau log-in ke sns mu serta kekasihmu.

Kepalamu terangkat ketika kau mendengar seseorang masuk ke dalam apartemenmu. Wajah lelah Taeyeon langsung menyambutmu. Kau rasanya ingin menangis saat melihat bagaimana rapuhnya kekasihmu namun kau harus menahannya karena kau harus kuat untuknya.

Kau menghampirinya dan langsung memeluknya. Tidak butuh waktu lama sampai kekasihmu membalas pelukanmu dengan sangat erat lalu menenggelamkan kepalanya di lehermu. Kau tidak menghiraukan kulit leher dan bahumu yang basah terkena air matanya. Tanganmu pun tidak berhenti mengelus punggung serta rambut kekasihmu dengan lembut. Untuk saat ini hanya itulah yang bisa kau lakukan.

Kau mengelus kening kekasihmu dengan perlahan. Wajah tidurnya bahkan tidak dapat menyembunyikan kesakitannya, sangat berbeda jika kau membandingkannya dengan saat-saat sebelumnya ketika ia tertidur. Penuh kedamaian dan terlihat seperti anak kecil.

“hei, maaf membuatmu terbangun”

Kau tersenyum kecil saat melihat matanya terbuka dan menatapmu. Matanya sedikit membengkak karena dia menangis cukup lama sampai akhirnya tertidur.

“apa kau sudah merasa lebih baik?”

anni

Dia membalas dengan suara yang pelan dan serak. Senyummu menghilang. Kau pun ikut berbaring di sampingnya. Kini kalian saling berhadapan dengan dirimu yang mengelus pipinya.

“aku senang kau tidak memilih untuk berpura-pura baik-baik saja di hadapanku karena hal itu membuatku merasa dibutuhkan olehmu.”

Kekasihmu menutup matanya untuk merasakan sentuhan lembutmu di wajahnya. Tidak berapa lama dia kembali membuka matanya dan kau dapat melihat dia mulai berkaca-kaca.

“aku sudah berusaha untuk mempertahankan segalanya dengan seluruh kemampuan yang aku bisa lakukan. Aku juga tahu kalau mereka tidak menginginkan hal tersebut tapi mereka memiliki alasannya sendiri dan aku tidak bisa lagi menahan mereka. Kami sudah dewasa dan mengenal dunia yang kami jalani ini dengan sangat baik jadi aku percaya apa yang mereka pilih adalah untuk kebaikan mereka sendiri.”

“agensi mengusulkan untuk merekrut anggota baru tapi aku menolaknya karena aku tidak ingin mereka berakhir menjadi bayanganku saja. Para trainee itu bisa lebih bersinar tanpa harus bergabung denganku jadi aku memutuskan untuk melanjutkan apa yang sudah aku jalani seorang diri.”

Kau menghapus sebulir air mata yang terjatuh dari mata kekasihmu. Meski kau tidak memintanya untuk bercerita tapi kekasihmu selalu memberitahumu apapun yang terjadi padanya dan hal itulah yang membuatmu merasa spesial di dalam hidupnya.

“kau sudah melakukan yang terbaik Tae. Kau tidak pernah memaksakan kehendakmu, justru kau selalu mendahulukan orang lain sebelum dirimu. Dan satu hal yang harus kau ingat, kau tidak sendiri. Kau punya aku. Aku akan menjadi kekasihmu, teman, fans, rekan kerja apapun itu, aku akan selalu berada di sisimu.”

gomawo Fany-ah. Aku beruntung memilikimu.”

nado Tae.”

“apa kau ada jadwal malam ini?”

Dia mengangguk pelan dengan mata yang terpejam. “kami akan melakukan konferensi pers. Aku tidak ingin penggemar kami saling membenci dan aku harap mereka dapat mendukung kami semua secara utuh meski kami tidak lagi bersama”

“kau tahu itu mustahil bukan?”

Kau tertawa kecil dan berhasil membuatnya tersenyum tipis.

“anggap saja itu doa” balasnya.

Kau pun menyisir rambutnya menggunakan jari tanganmu dengan dirinya yang terpejam menikmati perlakuanmu. Dalam hati kau berjanji bahwa kau akan selalu membantu kekasihmu untuk kembali bangkit.

********

“Tae, kenapa kau tidak pernah membuat lagu tentang diriku?” Kau bertanya padanya.

Kalian sedang berjalan bersama menikmati udara malam yang menyejukan saat itu. Satu tangan kekasihmu membawa case gitarnya sedangkan tangannya yang lain menggenggam erat tanganmu. Kalian sudah tidak lagi peduli jika paparazzi mengikuti kalian.

Terlebih setelah kekasihmu mengumumkan pertunangan kalian ke media beberapa hari yang lalu yang untungnya disambut dengan sangat baik oleh penggemar kekasihmu.

“hmmm kenapa ya..” dia menggodamu. Kau pun mencubit bahunya dan membuatnya meringis pelan.

“aku pernah mencoba membuat lagu tentang dirimu tapi tidak ada kata-kata yang bisa aku rangkai menjadi sebuah lirik.”

“mengapa?” kau memusatkan pandanganmu pada kekasihmu.

Dia terdiam sejenak.

“karena apa yang aku rasakan untukmu tidak pernah bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Perasaanku padamu lebih dalam dari sebuah lirik penuh makna.”

Bohong jika kau tidak menyukai jawabannya karena nyatanya pipimu memerah saat mendengar perkataannya.

smooth talker” cibirmu pelan.

Kekasihmu tertawa dengan ahjumma laughnya yang terkenal itu. Dia menghentikan langkah kakinya dan membuatmu berhenti juga. Tangannya bergerak untuk membelai rambut panjangmu.

“aku ingin kau merasakan cintaku secara nyata bukan lewat kata-kata.”

Kau menunduk malu dan menggumam padanya.

“kenapa kau selalu bisa membuatku jatuh semakin dalam padamu Kim Taeyeon?”

“karena aku tidak ingin kau jatuh pada orang lain”

Kau tidak lagi membalas perkataannya karena kau tidak ingin pipimu semakin memerah. Kau pun memilih untuk langsung memeluk lehernya dan mengunci bibir mungil kekasihmu dengan bibirmu sendiri.

End

.

.

.

IMG-20170401-WA0005

WOOOPS HAPPY APRIL FOOLS DAY GUYS!!!

*evil laughs*

Kalau kalian masih bingung jadi postingan kemarin itu cuma bencandaan aja hehehe

Maaf udah bikin kalian khawatir dan nganggap  ini serius *cium reader satu-satu*

.

.

aaaaaaak aneh banget deh rasanya udah lama gitu nggak buat ff. Jadi maafkanlah jika ff ini terasa aneh untuk kalian hahaha

Hmmm bingung mau ngerandom apa…

oh aku mau bilang makasih untuk tippara, kimyoobin dan sherin yang udah komen dan ngelike post kemarin hahaha nggak nyangka masih ada yang main ke sini dong *grin*

Ohya! Ini nggak akan jadi ff terakhir yang aku post justru aku mau bilang kalo aku bakal nulis lagi dan (semoga bisa) jadi author yang aktif lagi *mari aminkan bersama*

So.. bye bye readers. See you soon *kecup*

Ps (1): Konsep ff ini aku ngikutin dari author ff seulrene di aff, ini ffnya dan juga artikel ini. Duh suka banget sama ffnya deh, aku baca ff ini mungkin udah 5 kali lebih. Luv banget sama authornya.

Ps (2): SEMOGA ADA YANG KOMEN YA hahahahahaha

 

[OneShoot] Dating A Musician? Why Not

 

Author: D’

Cast: Kim Taeyeon & Hwang Tiffany

Genre: Romance, Yuri

A/N: Inspired by Trey Songz – Neighbors Know My Name (2009)

Soon as we get started makin’ love

Goin’ harder hear a..

(knock knock) knocking on the wall

And as soon as I go deep getting it in

then again there’s a..

(knock knock) knocking on the wall

“Kim Tae…aahh!”

Tok!! Tok!!

********

While I be bangin’ on yo body

they be bangin’ on our wall

While they dreamin’, you be screamin’

now they bangin’ on our door

Sometimes she call me trey

sometimes she say tremaine

When it’s all said and done but the neighbors know my name

Taeyeon menarik hoodie hitamnya untuk menutupi rambut pirang sebahunya dari tetesan air hujan yang datang tiba-tiba. Dia menghisap rokoknya dengan sekali tarikan nafas lalu menghembuskan kepulan asap dari hidung serta mulutnya ke udara. Dia pun membuang puntung rokok tersebut ke jalan lalu menginjaknya. Kedua tangannya dia masukan ke dalam saku jaketnya saat langkah kakinya semakin dekat dengan tempat yang ditujunya. Di depan Taeyeon ada tiga orang pria tua yang sepertinya berjalan ke arah yang sama dengannya….ah tunggu, ternyata mereka memang menuju ke tempat yang sama dengannya.

Taeyeon mendecak pelan saat ketiga pria itu mengambil tangga yang sama dengannya. Dia tidak suka berjalan lambat apalagi jika harus menaiki tangga di belakang orang tua, tapi dia bukanlah wanita tak beretika yang akan menerobos di antara orang-orang renta itu dan mendahuluinya. Jadi dia memutuskan untuk bersabar melangkah di belakang mereka, menaiki satu per satu anak tangga dengan jeda sekitar lima detik per anak tangga.

“aku harap anak-anak itu tidak mengganggu tidurku lagi.” Keluh salah satu pria.

“iya. Mereka benar-benar berisik. Ughh aku sampai harus menggedor dindingku yang bersebelahan dengan kamar mereka agar berhenti tapi mereka tidak peduli sedikitpun.” Timpal salah satunya. Taeyeon menaikkan satu alisnya mendengar obrolan mereka.

“aku berani bertaruh kalau satu apartemen ini dapat mendengar teriakan gadis itu” tambah satunya lagi.”

“bahkan kita semua pasti tahu nama pasangannya”

“ya.. namanya Kim”

“bukannya Taeyeon?”

“aku pikir aku mendengar nama Taetae. Nama yang aneh”

“ah.. aku tahu siapa namanya yang sebenarnya”

“siapa?”

aahhh..Shit! itu namanya” ketiga pria itu tertawa dengan keras tidak menyadari ada seorang gadis di belakang mereka yang tengah menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

********

Take this pillow right here (grab this)

And I know you’re so excited if you bite it they won’t hear

and you know jus’ what we capable of, when we makin’ love

Taeyeon masuk ke dalam sebuah kamar apartemen kecil dan langsung melepas jaketnya lalu melemparnya ke atas sofa pink yang sudah usang. Dia menggerakkan kakinya di dalam ruangan sederhana yang hanya terdiri dari ruang tamu kecil, dapur kecil, kamar mandi kecil dan kamar tidur kecil, semuanya berdekatan satu sama lain, well dia tidak bisa menuntut banyak karena harga sewanya pun setimpal dengan fasilitas yang dia dapat, namun hal baik dari apartemen murah itu adalah mereka memiliki balkon sendiri.

Senyum Taeyeon muncul saat dilihatnya sang kekasih tengah berdiri membelakanginya.

miss me?” Tanya Taeyeon, dia memeluk pinggang gadis itu dari belakang dan mengecup bahu putih mulusnya yang tidak tertutupi oleh gaun malam berwarna hitam yang dikenakannya.

Gadis itu, Tiffany, memutar tubuhnya dan memeluk leher Taeyeon, menatap nakal kekasihnya. “kita tinggal di satu tempat yang sama dan hanya terpisah di siang serta sore hari untuk bekerja, jadi bagaimana mungkin aku merindukanmu semudah itu?”

Taeyeon mendengus sebal mendengar jawaban gadis di hadapannya tersebut. Dia pun meraih kepala Tiffany dan menyatukan bibir mereka. Taeyeon menggerakkan bibirnya dengan cepat untuk mengimbangi permainan kekasihnya. Mereka berciuman dengan menggebu-gebu, menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan, saling tarik menarik lidah untuk mendominasi satu sama lain.

Tiffany mendorong tubuh Taeyeon menuju kasur. Mereka terjatuh masih dengan bibir yang bertautan. Taeyeon bergerak untuk mengubah posisi mereka lalu menindih tubuh Tiffany dan menahan tangannya di kedua sisi kepalanya. Tangan Taeyeon kembali bergerak menuju dada Tiffany dan memberikan remasan pelan di sana, sebelum dia merobek kasar gaun satin kekasihnya tersebut.

“ughh Taeyeon” erang Tiffany. Ciuman mereka pun terlepas.

“sudah ku bilang berhenti merobek gaunku. Ini gaun entah yang ke berapa yang sudah kau rusak. Gajiku bisa habis hanya untuk membeli gaun tidur.” Protes Tiffany dengan mempoutkan bibirnya. Taeyeon tersenyum lalu mengecup bibir tipis itu.

“maaf. Aku tidak bisa menahannya. Dan juga aku kan sudah katakan kalau kau tidak perlu memakai pakaian jika sudah malam, tunggu aku saja di atas kasur dan tutupi tubuhmu dengan selimut. Itu akan mempermudah aksesku kan?”

“tadi aku ingin melakukannya tapi tiba-tiba turun hujan dan udaranya dingin sekali, jadi aku mengurungkannya.” Balas Tiffany. Taeyeon pun tersenyum memaklumi. Selama bertahun-tahun mereka berhubungan tapi Taeyeon tidak pernah mampu menahan dirinya, well apa yang bisa kau harapkan jika kau memiliki seorang kekasih seperti seorang Tiffany Hwang. Kau bisa gila dibuatnya hanya dengan satu kerlingan mata.

“bisa kita lanjutkan?” Tanya Tiffany.

“hmm dengan satu syarat”

Tiffany menaikkan satu alisnya. “apa?”

“pelankan desahanmu. Kau tahu, saat aku menaiki tangga ada tiga orang pria tua yang membicarakan betapa berisiknya kita. Mereka bahkan tahu namaku karena mendengar desahanmu itu. Ughh aku malu sekali.” Taeyeon menggerutu sebal, membuat Tiffany tertawa keras.

really? Wow daebbak?” serunya. Taeyeon harusnya tetap mempertahankan ekspresi kesalnya tapi dia justru ikut tertawa bersama Tiffany.

“kita baru pindah ke apartemen ini tiga minggu yang lalu dan kau sudah terkenal Taetae” ujar Tiffany setelah tawa mereka mereda.

“entah aku harus senang atau malu” balas taeyeon. Tiffany kembali tertawa kecil lalu melingkarkan lengannya di leher Taeyeon dan mendorong kepala gadis itu untuk diberinya ciuman singkat di bibir mungilnya.

“ayo kita lakukan perlahan.” Taeyeon tersenyum lebar mendengar kata-kata kekasihnya itu. Dia pun kembali menutup jarak keduanya dengan saling menyesap bibir satu sama lain. Tangannya yang bebas pun bergerilya di setiap daerah sensitif Tiffany, menghasilkan desahan-desahan tertahan dari gadis di bawahnya itu.

.

.

.

.

.

.

“Ahhhhh!! TAEYEON ! AHHHH……SHIT!!”

TOK !!!! TOK !!!!

 

THE END

[Drabble] Neighbors Know My Name

Author: D’

Cast: Kim Taeyeon, Hwang Tiffany, & Kwon Yuri

Genre: Gender Bender

Just enjoy ^^

********

Taeyeon menjatuhkan tubuhnya ke salah salah satu kursi yang tersedia di kantin kantornya. Wajahnya tampak kelelahan padahal pekerjaannya hari ini tidak begitu banyak dan sulit, namun ada hal lain yang membuatnya sangat kelelahan seperti itu.

“aigooooo Kim Sajang!!!” seruan heboh itu sontak membuat, tidak hanya Taeyeon tapi juga seluruh orang yang ada di dalam kantin menolehkan kepala mereka. Taeyeon pun hanya mampu menghela nafas semakin berat saat tahu siapa si biang onar tersebut.

“yah! Kenapa kau tidak membalas sapaanku” keluh Yuri seraya duduk di hadapan Taeyeon.

“aku sedang tidak bersemangat Yul.” Gumam Taeyeon. Dia melipat tangannya di atas meja lalu merebahkan kepalanya di sana. Yuri menaikan alisnya melhat Taeyeon yang tidak biasanya lemas seperti itu.

“hei, kau kenapa? Ada masalah?”

Taeyeon mengangguk sekali.

“masalah kantor?”

Kali ini Taeyeon menggeleng.

“ahh~ Tiffany?”

Taeyeon kembali mengangguk. Yuri menyandarkan tubuhnya sambil melipat kedua tangannya. Dia memperhatikan sahabatnya itu dengan seksama. Tubuh lemas tidak bertenaga, kantung mata yang sedikit terlihat, dan juga akhir-akhir ini Taeyeon sering telat datang ke kantor, apakah mungkin….

“sekuat itukah Tiffany, sampai-sampai kau tidak bisa menyeimbangi permainannya?”

Taeyeon langsung menegakkan tubuhnya dan memukul kepala sahabatnya itu dengan keras. “kau pikir aku ini pria macam apa? Bukan masalah itu yang sedang aku hadapi.” Tegasnya.

Yuri tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesal Taeyeon. Dia pun menarik bangkunya agar lebih dekat dengan meja lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Taeyeon.

“jadi.. masalah apa?” tanyanya.

Taeyeon mengusap wajahnya sebelum menaruh kembali tangannya di atas meja dengan jari-jari yang saling bertautan. “Dia menjadi aneh. Dia berubah.” Gumamnya nemun tetap mampu di dengar Yuri.

“Apa kau tahu Avatar, Yul?” tanya Taeyeon.

“raksasa aneh berwarna biru?”

“bukan bodoh. Bukan Avatar yang itu. Avatar kartun anak-anak. The legend of Aang”

Gasp

Yuri membuat ekspresi terkejut lengkap dengan mata yang membulat disertai kedua tangan yang menangkup wajahnya sendiri. Persis seperti ekspresi mutan konyol di film Deadpool yang beberapa hari ini sering Taeyeon tonton.

1462760290.jpg

like this LOL

“maksudmu Tiffany mencukur habis rambutnya lalu berubah menjadi bocah laki-laki dengan tanda panah di kepalanya itu?”

Taeyeon memutar bola matanya. Dia berpikir berada di level berapakah kebodohan pria di depannya itu. Dia sama sekali tidak habis pikir bagaimana bisa dia menjerat hati banyak wanita dengan daya pikir seperti itu.

“bukan Yul. Bukan fisiknya. Tapi kemampuannya.” Beritahu Taeyeon.

“ohhhhh… aku tetap tidak mengerti.”

Taeyeon menghela nafas panjang kali ini. Dia memejamkan matanya sebelum menatap lekat sahabatnya itu. “begini Yul. Tiffany saat ini sama seperti karakter di kartun itu, dia seperti seorang avatar yang mampu menguasai 4 elemen bumi. Yaitu…

Tanah

“kau pasti sangat tahu kan Yul betapa payahnya Tiffany dalam melempar? Bahkan melempar bola baseball saja selalu meleset tapi….”

“ya!  Dasar pembohong! kau bilang kau akan pulang cepat tapi ini sudah jam berapa?!”

“maaf Fany-ah, aku…. Aww”

Sebuah majalah mendarat tepat di kepala Taeyeon.

“tadi mesin mobilku sedikit bermasalah jadi…aww”

Sebuah guling terhempas ke tubuh Taeyeon.

“pembohong! Mobilmu kan baru, tidak mungkin sudah rusak”

Sebuah bantal kini menabrak wajah Taeyeon.

“t..tapi aku tidak berbohong, sayang. Aku benar-benar.. ya! Ya! Fany-ah jangan lempar itu. Oh Tuhan..”

Taeyeon segera keluar dari kamar tidurnya saat sang istri meraih pigura yang terpajang di meja nakas mereka. Dia menyandarkan tubuhnya seraya mengeus dadanya karena berhasil menyelamatkan hidupnya.

Api

“Tiffany bukanlah tipe orang yang suka memperbesar sebuah masalah kecil tapi kali ini… ughhh”

“Kim Taeyeon!!”

Taeyeon langsung melompat dari posisi tidurnya saat mendengar teriakan sang istri.

“Taeyeon. IREOWA!!!”

Tanpa banyak berpikir Taeyeon pun segera bangkit dari kasurnya dengan tergesa-gesa, dia bahkan sampai terjatuh karena kakinya terlilit oleh selimut yang dipakainya. Dengan sedikit mengiris dia berlalri menuju ke tempat di mana istrinya berada. Dia berhenti tepat di hadapan Tiffany yang kini tengah memegang kemeja kerjanya dengan tatapan penuh amarah. Taeyeon menelan salivanya.

“w..wae gurae.. Fany-ah?” tanyanya.

“kau! Sudah ku katakan berkali-kali jangan pakai kemeja ini jika kau ada pekerjaan di luar kantor kan?! Lihat! Noda ini sulit dihilangkan! Kau tidak tahu kan betapa sulitnya mencuci kemeja berwarna putih, hah?! Kalian para pria hanya tahu caranya memakai saja tapi tidak tahu bagaimana sulitnya membersihkan pakaian ini?!!!”

Taeyeon menunduk takut.

“maaf.. biar aku saja yang mencuci kemeja itu.”

“kau mencuci?! Kau ingin membuat mesin cuciku rusak?!!!”

Air

“ini yang paling aneh, Yul”

“kyaaa!! Tae!”

Taeyeon yang sedang bersantai di depan televisi segera ambil langkah seribu saat mendengar jeritan Tiffany.

“A..ada apa Miyoung-ah?” Tanya Taeyeon panik. Tiffany pun segera memeluk suaminya saat dia mendekat.

“ada kecoa” lirihnya sambil menunjuk kea rah washtafel. Taeyeon tersenyum kecil lalu melepas pelukan Tiffany. Dia melepas slippernya lalu mengarahkan pukulannya pada kecoa yang sudah turun ke lantai dan berusaha kabur itu.

PAK!

Taeyeon mengangkat slippernya lalu mengambil kecoa itu dan membuangnya ke tempat sampah. Senyum puas Taeyeon hilang saat mendengar suara isak tangis di belakangnya. Dia berbalik dan terkejut saat mendapati sang istri tengah menangis kecil dengan memandanginya.

“ada apa Miyoung-ah. Kenapa kau menangis?” Tanyanya setelah menghampiri Tiffany.

“kau jahat, Tae.”

Taeyen mengerutkan dahinya. Memangnya apa yang dia lakukan?

“kenapa kau membunuh kecoa itu? Bagaimana kalau ternyata dia mempunyai sebuah keluarga, seorang istri juga anak-anak. Atau bagaimana kalau dia adalah seorang anak yang menjadi tulang punggung keluarganya untuk mendapatkan makanan di rumah ini? Kenapa kau tidak berperikehewanan sama sekali sih?”

Kerutan di dahi Taeyeon semakin rapat karena perkataan aneh istrinya tersebut.

“tapi Miyoung-ah……… kecoa itu bukan hewan, dia serangga.”

Udara

“ini adalah yang paling menyeramkan, Yul. Kalau kau berada di posisiku kupastikan kau akan merinding seperti melihat seribu hantu..”

Satu alis Taeyeon terangkat saat mendapati rumahnya gelap dan sepi seperti tidak berpenghuni. Dia meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu dan setelah menemukannya dia pun langsung menyalakan seluruh lampu di ruang keluarganya.

“Ah! Kkamjakkiya” kaget Taeyeon. Dia mengelus dadanya saat melihat istrinya duduk bersandar di sofa, menyilangkan tangannya di depan dada, dan raut wajahnya datar. Taeyeon pun mengusap tengkuknya saat tiba-tiba merasakan ada udara dingin mencekam menyelimuti ruangan itu.

Dia menghampiri istrinya dan duduk di samping Tiffany.

“Miyoung-ah.. apa yang sedang kau lakukan?”

Hening

“Mi..Miyoung-ah apa kau marah karena aku pulang telat lagi?”

Masih hening

“Mian.. Aku tadi mampir ke toko kue sebentar dan membeli cake kesukaanmu. Ini cakenya.” Taeyeon mengangkat bungkusan di tangannya seraya tersenyum lebar tapi Tiffany tetap tidak bergeming.

Ya Tuhan ada apa dengan istriku, keluhnya dalam hati.

“wow” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Yuri setelah Taeyeon menyelesaikan ceritanya.

Kedua pria itu terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Taeyeon-ah..” panggil Yuri tiba-tiba. “…apa kau sudah memeriksakan Tiffany ke dokter?” tanyanya hati-hati.

“aku akan membunuhmu kalau kau berpikir Tiffany gila atau semacamnya.”

“anni.. bukan itu” Yuri segera membalas. Dia terdiam sebentar lalu menatap lekat sahabatnya. “kapan terakhir kali kau melakukan hubungan suami istri dengannya, Taeng?”

Taeyeon mendecak sebal mendengar pertanyaan konyol Yuri. “bukan disitu letak permasalahannya Kwon Yul.. kau.. Ya Tuhan apakah hanya hal itu yang terlintas di kepalamu?”

“eishhh bukan itu maksudku..” bela Yuri. “..aku tidak tahu apakah semua wanita memang mengalaminya atau tidak, tapi aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan jika seorang wanita sedang hamil maka emosinya akan lebih cepat berubah, kadang naik dan kadang turun lalu……………”

Taeyeon tidak lagi mendengar penjelas Yuri karena saat ini kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam spekulasi.

Wanita hamil = Tiffany hamil

Tiffany hamil = Dia akan menjadi ayah!!!

Brak!

Taeyeon langsung berdiri dan mengakibatkan bangku yang tadi di dudukinya terjatuh. Dia menyambar handphonenya yang berada di atas meja lalu berlari meninggalkan Yuri.

“Yul, aku pergi! Aku akan membawa Tiffany ke rumah sakit!” teriaknya.

“ya! Kim Taeyeon!!! Makananmu belum kau bayar!!!!!!!!!!!!”

END

A/N: Aduh nggak taulah ini apa hahaha ff yang terispirasi dari pic ini

1448420494.jpg

iya.. elemen terakhir harusnya ice, aku ganti jadi udara karena Aang punyanya elemen udara, bukan ice hahahahahahaha. bye.. sampai ketemu lagi byooong :*

Whipped: Avatar

Diposkan pada Uncategorized

PW

Dikarenakan saya jarang buka e-mail dan ternyata kebanyakan yang minta PW itu mintanya lewat e-mail jadi saya putuskan untuk ngasih PW secara cuma-cuma.
Giiiilss kurang baik apa coba saya *kibasrambut* hahahaha

PW Affair 25 – 26 : Digembok
PW Cruel Intention 3 : seductiongame

A/N : Kangen bikin ff 😭😭 tapi nggak sempat sama sekali :'(:'(

image

Author: D

Cast: Kim Taeyeon, Hwang Tiffany and Others

Genre: Gender Bender, Romance

 

Youre still the only thing

And everything

I need in my life

********

Seorang pria berlari dengan sekuat tenaga di sebuah gang kecil yang gelap sambil sesekali melihat ke belakang. Matanya penuh dengan sorot ketakutan. Langkahnya terhenti saat dia tidak lagi menemukan jalan yang bisa dilaluinya. Keringat dingin pun bercucuran saat dia melihat sosok bayangan hitam di ujung gang, mendekat ke arahnya. Dia berjalan mengelilingi ruang buntu itu berharap menemukan celah kecil yang mampu menyelamatkannya tapi sayang sepertinya dewi fortuna pun enggan mendampinginya.

Sosok itu semakin dekat dan akhirnya berada tepat di hadapannya. Pria malang itu langsung berlutut di depan pria berjas dengan pistol di tangan.

“T..Tuan Kim. Aku mohon ampuni aku. A…aku bersalah, mohon ampuni aku. Jangan bunuh aku, aku punya istri dan anak, Tuan” mohonnya sambil memeluk kaki pria yang dipanggilnya dengan Tuan kim tersebut.

Tuan Kim menghempaskan pria itu dengan menendangnya hingga terjungkal ke belakang. “harusnya kau ingat istri dan anakmu di saat kau ingin menggelapkan uangku bukan di saat kau akan menemui ajalmu” balasnya.

“Maafkan aku Tuan Kim.” pria itu kembali bersimpuh, memohon ampun. Sayang, Tuan Kim tidak lagi peduli padanya, dia sudah memberikan banyak toleransi pada pria itu dengan berpura-pura tidak tahu selama tiga bulan pertama pria itu menggelapkan uang usahanya tapi ternyata perbuatannya semakin menjadi dan banyak merugikannya.

Tuan Kim mengarahkan pistolnya tepat di kepala pria itu. “Aku bukan Tuhan. Aku bukanlah pemaaf.”

Door!

“Buang tubuhnya di laut. Jangan tinggalkan jejak setitik pun.” perintahnya kepada anak buahnya.

“Baik Tuan”

********

Tuan Kim menaruh sebatang rokok ke mulutnya dan menyalakannya dengan korek gas miliknya. Dia menghisap benda itu dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Beberapa anak buah terbaiknya selalu mengikuti langkahnya kemanapun dia pergi. Di setiap sisi tubuh mereka selalu tersedia pistol yang siap mereka gunakan untuk melindungi Tuan mereka.

Langkah Tuan Kim terhenti saat dia melihat beberapa pria asing berjas hitam berbaris di depan ruangannya.

“Siapa kalian?” tanyanya.

“Tuan kami ingin bertemu dengan anda” jawab salah satu dari mereka.

Tuan Kim menaikkan satu alisnya. “Siapa Tuan kalian?”

“Aku”

Tuan Kim mengerutkan keningnya saat mendengar suara yang tidak asing baginya namun sudah lama tak di dengarnya. Saat pria-pria itu bergeser dan menunjukkan sosok pemilik suara tersebut Tuan Kim tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

“Tuan.. Hwang?”

“lama tidak berjumpa, Kim Taeyeon”

*********

“Jadi ini yang saat itu kau katakan kau bisa sukses dengan caramu sendiri? Drughouse, prostitute, illegal loging? well kau benar-benar sukses menjalaninya.” Tuan Hwang menatap Taeyeon dengan senyum tipis yang tak pernah hilang dari wajahnya. Dia menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang diletakkan di atas lengan sofa. Dua anak buahnya berdiri di samping kiri dan kanannya sedangkan yang lain menunggu di luar, sama seperti yang Taeyeon lakukan.

“setidaknya aku cukup kagum dengan kepandaianmu dalam bersembunyi dan kehebatanmu untuk membungkam seluruh anak buahmu sampai-sampai mereka sangat sulit diajak bekerjasama meski aku imingi uang besar sekalipun. Butuh waktu 3 tahun untukku sampai akhirnya bisa menemuimu dalam keadaan seperti ini.. wow kau sungguh banyak berubah Kim Taeyeon” pujinya, sarat dengan sindiran.

Taeyeon menatap tajam pria di hadapannya tersebut dengan tangan yang terkepal. “Jika kau datang ke sini hanya untuk menghakimiku, pergilah. Anak buahku lebih dari siap untuk menyeretmu. Dan juga, mereka terlatih dalam menembak, tidak akan kalah dengan anak buahmu yang dari Amerika itu”

Tuan Hwang menganggukkan kepalanya mendengar kata-kata Taeyeon. “Kau tahu, aku tidak menyesal telah memisahkanmu dari Tiffany jika melihat kehidupanmu saat ini. Tapi aku menyesal karena telah membiarkan Tiffany jatuh terlalu dalam padamu, sampai aku telat untuk menariknya” ujarnya dan kemudian dia bangkit dari duduknya. Pria tua itu berjalan menuju ke arah pintu diikuti oleh anak buahnya. Salah seorang anak buahnya membukakan pintu untuknya namun dia tidak langsung keluar, justru dia berhenti dan terdiam. Dia memejamkan matanya sambil menghirup udara dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Jika kau tidak sibuk kunjungilah Tiffany. Dia membutuhkanmu” ujarnya dan kembali melangkah.

“Jika dia membutuhkanku. Dia tidak akan meninggalkanku” balas Taeyeon yang tidak luput dari pendengaran Tuan Hwang

*******

“kita kembali ke Seoul sajangnim?” tanya sang supir.

“tidak. Ini sudah terlalu malam. Kita pulang saja”

“baik”

Taeyeon memperhatikan jalanan gelap di luar. Butir-butir air mulai memenuhi kaca jendelanya dan berganti menjadi aliran air yang deras, sederas hujan di luar sana. “Tuan Park.. tolong nyalakan radionya” perintahnya.

“ya sajangnim”

.

.

“………..kami akan menerima satu permintaan lagu dari 37762, dia mengatakan Chaeyong-ssi bisakah kau memutarkan lagu Halo dari Ane Brun? Itu lagu lama dan aku ingin orang-orang bernostalgia bersama lagu itu, seperti aku yang selalu bernostalgia mengingat mantan kekasihku setiap mendengar lagu tersebut. P.S tolong jangan beritahu suamiku o..oh well waaaah jadi anda sudah punya suami ummm oke aku tidak akan ikut campur hehe dan ya, kami akan memutarkan lagu tersebut lalu lanjut ke sesi kedua. Selamat mendengarkan……”

.

.

Taeyeon menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dan memejamkan matanya dengan perlahan.

Remember those walls I built

Baby theyre tumbling down

They didnt put up a fight

They didnt even make a sound

Semuanya berawal dari sebuah ciuman yang sangat lembut sampai Tiffany merasakan lidah Taeyeon menjilat bibir bawahnya sebelum menaikkan level ciuman mereka. Keduanya tenggelam dalam sesi cumbuan panas tersebut dengan keduanya bertarung untuk mendominasi gerakan satu sama lain, namun pada akhirnya Taeyeon lah yang menang. Akal sehat Tiffany sudah hilang begitu dia sadar jika tangannya melingkar di leher Taeyeon untuk memperdalam ciuman mereka.

Keduanya menjauh dari satu sama lain saat mereka membutuhkan oksigen. Taeyeon menatap Tiffany yang masih menutup matanya merasakan kenikmatan bibir Taeyeon di bibirnya. Taeyeon menyelipkan beberapa helai rambut Tiffany di telinganya dan mengagumi kecantikan gadis itu.

Aku pasti melakukan hal yang sangat mulia di kehidupan terdahulu sehingga Tuhan membiarkanku mendapatkanmu di kehidupan saat ini. Ujar Taeyeon, dia mengusap pipi Tiffany menggunakan ibu jarinya. ya Tuhan.. kau sangat cantik Fany-ah

Tiffany tidak bisa menahan rasa malunya mendengar pujian dari kekasihnya itu, dia pun menangkup wajah Taeyeon lalu menciumnya lagi dan lagi dan lagi. Taeyeon menahan kepala Tiffany untuk terus menciumnya tanpa melepasnya. Mereka terus berciuman, bahkan setelah Tiffany sudah berbaring di kasur dengan Taeyeon yang berada di atasnya, bibir mereka tidak pernah terlepas karena mereka butuh merasakan satu sama lain lewat ciuman tersebut.

I found a way to let you in

But I never really had a doubt

Standing in the light of your halo

I got my angel now

Taeyeon menekan bibir mereka bersama dan melumatnya lebih liar. Tangan Tiffany bergerak dari rambut Taeyeon ke bahunya lalu mengusap punggungnya dan berhenti di ujung kaus yang Taeyeon kenakan. Dia menarik kaus itu ke atas dan meloloskannya dari kepala Taeyeon lalu kembali melanjutkan ciuman mereka. Tiffany memang pernah melihat Taeyeon seperti itu sebelumnya saat mereka pergi ke pantai tapi melihatnya saat ini dengan posisi yang seperti itu rasanya benar-benar berbeda. Taeyeon meraih tangan Tiffany untuk diletakkan di lehernya sedangkan dirinya kembali mendekati untuk menciumnya lagi.

Taeyeon pun tidak ingin kalah melangkah, dia menggerakkan tangannya menuju ke balik kaus Tiffany dan mengusap perut rata gadis itu, jari-jarinya bergerak seperti seekor laba-laba yang merayap ke tubuh Tiffany dan berhenti tepat di dada kekasihnya. Taeyeon meremas dada Tiffany dan membuat gadis itu mendesah di antara ciuman mereka.

It’s like I’ve been awakened

Every rule I had you breaking

It’s the risk that I’m taking

I ain’t ever gonna shut you out

Satu persatu pakaian terlepas dan berserakan di lantai. Tidak ada tanda-tanda dari dua orang itu untuk melepaskan tubuh satu sama lain, mereka terlalu terlena dengan permainan mereka sendiri. Taeyeon semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Tiffany untuk menyatukan tubuh mereka bersama. Pria itu memberikan jejak ciuman dari leher menuju ke tulang selangka kekasihnya. Tiffany tercekat dengan keras merasakan gigi Taeyeon yang tenggelam ke dalam kulitnya serta lidahnya yang bekerja di setiap daerah yang sangat sensitif. Tiffany menutup matanya mencoba untuk menahan desahannya yang akan keluar. Sentuhan Taeyeon benar-benar membuat Tiffany bergetar dan merasakan sesuatu bangkit di dalam tubuhnya, antisipasi, hasrat, kegugupan dan banyak perasaan lainnya.

Taeyeon kembali naik ke atas untuk mencium bibir Tiffany sementara tangannya membelai paha bagian dalam gadis itu. Sentuhan Tangan Taeyeon sempat menghilang dan berganti dengan sebuah benda asing yang bersentuhan dengan pusat daerah sensitifnya. Tiffany melepaskan erangan parau saat benda itu bergerak untuk masuk lebih dalam bersamaan dengan Taeyeon yang tidak henti-hentinya membisikkan kata-kata cinta di telinganya dan membuat rasa sakit di bawah sana terhempas begitu saja.

Beberapa detik kemudian Tiffany sudah menggenggam erat seprai dan kepalanya bergerak dari sisi ke sisi dengan nafas yang tersengal. Apapun yang Taeyeon lakukan saat itu benar-benar membuatnya gila dan yang bisa Tiffany lakukan hanyalah memanggil nama Taeyeon berulang-ulang sampai kata-kata itu berubah menjadi lenguhan panjang dan dia merasakan tubuhnya melayang ke udara.

Everywhere I’m looking now

I’m surrounded by your embrace

Baby I can see your halo

You know you’re my saving grace

You’re everything I need and more

It’s written all over your face

Baby I can feel your halo

Pray you won’t fade away

********

Taeyeon keluar dari kamar mandi bersamaan dengan dering handphonenya yang berbunyi. Dia berjalan menuju meja nakas dan tersenyum kecil saat melihat nama si pemanggil di layar benda tipis tersebut.

“Taeyeon, apa kabar?” sapa sebuah suara yang tidak asing lagi di telinganya selama bertahun-tahun tersebut.

“aku baik-baik saja, Yul. Kau sendiri?”

“sangat baik. Hei, Yoong ingin berbicara denganmu”

Senyum Taeyeon pun melebar, “oke, berikan padanya”

“Taeyeon Appa! Taeyeon Appa!! Terima kasih untuk miniatur pesawat tempur yang kau berikan. Itu sungguh keren Appa. Semua teman-temanku iri saat aku memperlihatkannya. Mommy bilang miniatur itu limited edition? Benarkah Taeyeon Appa?”

“nde, Yoong. Miniatur itu limited edition. Kau harus menjaganya dengan baik, arasso?”

“ne..tentu saja Appa. Aku tidak akan membawanya keluar rumah lagi.”

“good boy”

“apa Taeyeon Appa akan datang ke rumahku besok? Sooyoung Appa dan Sunny Eomma serta si kembar Hyoyeon dan Hyomin juga datang. Mommy bilang jika Taeyeon Appa datang maka Mommy akan membuat makanan kesukaan Taeyeon Appa”

“hmm tolong bilang Mommymu untuk tidak melakukan itu karena Taeyeon Appa tidak ingin keracunan”

“you so mean, Appa hehe. Uhmm Taeyeon Appa, Mommy memanggilku. Sampai bertemu besok. Selamat malam.”

“selamat malam juga Yoong.”

Taeyeon tidak mematikan panggilan itu karena dia sempat mendengar suara Yuri yang meminta teleponnya kembali dari Yoong dan dia memastikan bahwa sahabatnya itu juga ingin berbicara dengannya.

“Hei Taeyeon, aku rasa Yoong sudah memberitahukanmu untuk datang ke rumahku. Datanglah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan”

“aku.. tidak janji Yul”

“kumohon Taeng. Ini penting”

“aku usahakan”

Taeyeon menghela nafas pelan saat pembicaraan singkat itu berakhir dan meletakkan kembali handphonenya ke tempat semula. Dia naik ke atas kasur besarnya dan merebahkan tubuhnya. Dia memandangi langit-langit kamar sambil mengingat percakapannya dengan Yoong tadi. Hampir semua rekan kerjanya menganggap Taeyeon adalah pria dingin yang tidak punya kasih sayang tapi mereka tidak tahu kalau Taeyeon tetaplah manusia biasa, dia masih memiliki sisi lembut dan penuh pengertian yang tersimpan, sisi yang hanya dia perlihatkan ke orang-orang tertentu saja.

Tiffany duduk dengan nyaman diantara kaki Taeyeon yang terbuka lebar sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. Taeyeon sendiri menyandarkan tubuhnya di kaki Sofa sambil memainkan jari-jari tangan gadisnya. Di depan mereka, sebuah tv plat besar sedang menayangkan acara parenting yang sangat terkenal dari Inggris, Supernanny, keduanya terlihat serius menyaksikan tayangan tersebut.

anak itu nakal sekali. Aku kasihan pada ibunya komentar Taeyeon.

memangnya kau tidak nakal saat kecil? ejek Tiffany.

hei. Saat kecil aku anak yang baik…”

kalau ada maunya sambung Tiffany dan tertawa kecil, membuat Taeyeon kesal lalu menggigit bahu gadis itu dengan pelan tanpa berniat menyakitinya dan membuat Tiffany menggeliat kegelian. Saat acara tersebut selesai, keduanya tetap duduk dalam posisi yang sama, tidak berniat merubahnya seinci pun.

Tiff

ya

aku tahu, jika aku melamarmu kau pasti akan langsung menerimaku tanpa ragu karena kau sangat mencintaiku.

Tiffany mendelik mendengar kata-kata Taeyeon dan menggeleng pelan. wow Tuan Kim. Kau benar-benar orang paling percaya diri di dunia Taeyeon tersenyum mendengarnya.

karena aku tahu kita berdua sama-sama menginginkan hubungan ini bertahan selamanya tidak peduli seberapa banyak rintangan yang harus kita lalui. Taeyeon menghela nafas pelan dan menggenggam tangan Tiffany. Aku tahu tidak sedikit orang yang mengatakan banyak hal tentang diriku, entah itu baik atau buruk well, aku rasa pasti yang buruk karena aku sadar siapa diriku di mata mereka. Hmmm yang ingin aku katakan sebenarnya adalah tolong selalu percaya padaku, jangan mudah terpengaruh oleh mereka yang menginginkan hubungan ini berakhir. Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan untuk satu sama lain. Bagaimana aku sangat mencintaimu dan bagaimana kau juga mencintaiku, mereka tidak tahu. Jadi ku mohon, jangan pernah tinggalkan aku dan tetaplah bersamaku di saat susah maupun senang, sampai kita berkeluarga, mempunyai anak, cucu lalu menua bersama. Promise me?

I promise you

Taeyeon mencium tangan Tiffany dan mengecup pipi gadis itu. Mereka kembali terdiam pada pikiran masing-masing sampai Tiffany menjadi yang pertama menyuarakan isi kepalanya.

Taeyeon-ah apakah kau benar-benar ingin mempunyai anak dariku?

tentu saja Fany-ah. Apa kau berharap aku menikah denganmu dan mempunyai anak dari wanita lain?

Tentu tidak, hanya saja……. Aku tidak pernah berniat untuk memiliki seorang anak. Maaf

Taeyeon membulatkan matanya pada kata-kata yang Tiffany ucapkan. wae? Tanyanya terkejut.

Tiffany menegakkan posisi duduknya dan mengalihkan pandangannya pada foto keluarga yang terpasang di dinding ruangan. Senyum tipis terukir di wajahnya saat pandangannya tertuju pada wajah sang ibu. kau tahu kan mommyku meninggal saat dia melahirkanku. Aku takut hal itu juga terjadi pada anak kita nanti. Bagaimana jika aku juga akan meninggalkannya saat dia baru terlahir di dunia ini? Aku tidak ingin itu terjadi Taeyeon-ah. Aku tidak ingin anakku seperti diriku. Aku tidak ingin dia kesepian. Aku ingin melihatnya tumbuh dan memanggilku mommy untuk yang pertama kali. Aku ingin mengantarnya di hari pertama ke sekolah. Aku ingin hadir di setiap perayaan hari ibu di sekolah. Aku ingin berfoto dengannya berdampingan denganmu saat dia lulus dari sekolah. Aku ingin melihat dia memakai gaun pengantin dan menikah dengan pria yang dicintainya. Aku ingin Aku ingin melakukan apa yang tidak bisa mommyku lakukan untukku Taeyeon.. tapi bagaimana jika. Saat melahirkannya aku..aku…” Tiffany tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan membiarkan air mata membanjiri pipinya. Taeyeon yang tidak tahan melihat kerapuhan Tiffany pun segera memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat.

ssst Tiffany tenang, tenang sayang. Tenang. Aku mengerti perasaanmu. Aku sangat mengerti. Aku tidak akan memaksamu untuk memiliki anak jika kau memang tidak benar-benar menginginkannya atau takut dengan apa yang kau pikirkan. Itu tidak masalah bagiku, sungguh. Yang terpenting adalah kau bahagia dan aku juga. Jangan khawatir, sayang. Jangan pikirkan itu lagi. Aku tidak ingin melihatmu menangis

Tapi kau menginginkan sebuah keluarga Taeyeon dan aku tidak bisa memberikannya.

Taeyeon memutar tubuh Tiffany agar mereka berhadapan. Dia menangkup wajah kekasihnya dan menghapus air matanya. Tidak ada yang mengatakan sebuah keluarga harus terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Itu hanya teori dari buku Tiffany. Bahkan jika hanya ada aku dan dirimu itu juga keluarga kan?.

Terima kasih Taeyeon. Kau selalu mengerti diriku Tiffany memeluk Taeyeon dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu.

karena kebahagiaanmu adalah yang utama bagiku

.

.

Taeyeon memiringkan tubuhnya dan matanya langsung tertuju pada pigura kecil yang selalu berada di atas meja nakas. “cukup bilang kau tidak ingin membangun sebuah keluarga denganku saja Fany-ah. Jangan gunakan nama Mommymu untuk dijadikan alasan. Aku……. membencimu”

**********

Mobil Taeyeon berhenti tepat di sebuah mansion mewah milik keluarga Kwon yang saat ini hanya ditinggali oleh pewaris tunggalnya saja, Kwon Yuri, yang tidak lain adalah sahabat Taeyeon. Pria itu keluar dari mobil dan berjalan menuju ke pintu utama sambil membawa sebuah tas kertas berisi mainan untuk anak-anak sahabatnya.

“Annyeong” sapa Taeyeon begitu dia membuka pintu dan disambut teriakan heboh dari kejauhan.

“Hyomin!! Yoong!! Taeyeon Appa datang!!!” Hyoyeon berlari ke arah Taeyeon dan berhenti tepat di depan pria yang sudah berlutut mensejajarkan tinggi mereka. Tidak lama, dua anak lainnya ikut berlari ke arahnya. Mereka mengelilingi Taeyeon karena sangat tahu jika Taeyeon datang pasti pria itu tidak akan pernah lupa membawa hadiah untuk mereka dan benar saja, satu set Boneka Barbie keluaran terbaru langsung berada di tangan Hyomin sedangkan Dua set Lego berukuran besar dengan model pesawat tempur untuk Yoong dan Kapal Pesiar untuk Hyoyeon. Ketiganya berteriak kegirangan dan mencium pipi Taeyeon sebagai tanda terima kasih.

“Taeyeon” panggilan lembut itu mengalihkan pandangan gangster yang terkenal berdarah dingin tersebut.

“Sica” Taeyeon memeluk wanita berambut brunette itu dan mengecup pipinya. “kami semua sudah menunggumu” ucap Jessica yang hanya diangguki oleh Taeyeon. Gadis itu memutar tubuhnya untuk berbicara pada sang anak.

“Yoong, bawa Hyoyeon dan Hyomin ke kamarmu. Bermainlah di sana dan jangan keluar dari rumah, arra?” perintahnya.

“yes, Mommy”

Setelah ketiga anak kecil itu pergi Taeyeon pun melangkah berdampingan dengan Jessica menuju ke ruangan rahasia milik Yuri. Well, sebenarnya ruangan itu tidak begitu rahasia, hampir semua orang di dalam rumah itu mengetahuinya kecuali Yoong karena ruangan itu sengaja Yuri desain seperti sebuah klub, lengkap dengan lounge bar dan rak penuh berisi wine berumur puluhan tahun, meja billiard, mesin casino dan lainnya.

Saat masuk ke dalam ruangan itu, Taeyeon menyapa satu persatu temannya. Mereka duduk di sofa yang ada di ruangan itu sambil bercengkrama menceritakan apa yang terlewat oleh satu sama lain selama kelimanya tidak bertemu. Sampai akhirnya topik pembicaraan terhenti dan Taeyeon menyadari ada yang aneh dari tingkah teman-temannya tersebut.

“Oke. Kalian tahu kalau aku sangat tidak suka dengan ekspresi menyembunyikan rahasia kalian. Beritahu sekarang atau aku akan pergi” ancam Taeyeon sambil meletakkan gelas winenya.

Sooyoung dan Yuri saling berpandang-pandangan dan menatap istri mereka masing-masing. Jessica menganggukkan kepala tegas pada Yuri yang membuat pria itu menghela nafas dan kembali menatap Taeyeon.

“Taeng, sebelumnya aku ingin kau dengarkan sampai akhir. Jangan menyela, oke?”

Taeyeon hanya diam, tidak merespon, tapi Yuri menganggap itu sebagai isyarat untuknya kembali berbicara. “Oke jadi begini, kemarin Tuan Hwang menemuiku…” mendengar nama yang paling dibencinya tersebut, Taeyeon pun segara bangkit dari duduknya dan menyambar jasnya lalu bersiap pergi. “Taeng, kau sudah berjanji untuk mendengarkan!” teriak Yuri, meraih bahu Taeyeon dan menahannya.

“Aku tidak mengiyakan, kau yang mengasumsikan sendiri” jawab Taeyeon datar.

“Taeng! Shit! Bisakah kau bersikap dewasa sedikit! Kami peduli padamu, kami pun peduli pada Tiffany, jadi kami ingin menjelaskan semuanya!!” kali ini Sooyoung ikut berbicara. Dia tidak tahan melihat tingkah sahabatnya yang tidak bisa diajak bekerja sama seperti itu apalagi jika itu berurusan dengan keluarga Hwang.

Taeyeon tertawa kecil mendengar kata-kata itu. “Tapi sayangnya Tiffany tidak peduli pada kalian. Dia juga tidak peduli padaku, dia tidak peduli pada siapapun. Yang dia pedulikan hanya dirinya sendiri. Bukankah kalian juga marah padanya? Mengapa sekarang kalian membelanya? Apakah pria tua itu sudah menyuap kalian? Berapa yang dia berikan pada kalian, aku bisa menggantinya dua kali lipat!!!!”

“kami tidak butuh uang harammu dan juga kami tidak dibayar oleh Tuan hwang! Dia datang untuk menjelaskan semuanya” balas Sooyoung.

“Sejak dia pergi meninggalkanku dan memberikan undangan pernikahannya, semuanya sudah jelas bagiku. Dia tidak pernah mencintaiku” jelas Taeyeon.

“Jika Tiffany tidak mencintaimu, dia tidak akan kabur dari pernikahannya hingga mengakibatkannya mengalami kecelakaan dan membuatnya koma sampai detik ini!!!” teriak Yul, mencoba membuat pria itu untuk diam dan dia berhasil. Taeyeon terdiam dengan mata yang membesar. Yuri pun menghela nafas dan mulai berbicara dengan pelan.

“perginya Tiffany secara mendadak dan kiriman surat undangan pernikahannya itu adalah perbuatan Tuan Hwang. Dia ingin kau berpikir kalau Tiffany meninggalkanmu dan membuatmu melupakannya. Tuan Hwang mengancam akan mencelakaimu jika Tiffany tidak menuruti perintahnya jadi Tiffany melakukannya, menghapus alamat emailnya, seluruh akun sosial medianya, dia membuat dirinya seolah-olah menghilang demi dirimu Taeyeon. Agar dirimu tidak terluka. Tapi di hari pernikahannya, Tiffany memutuskan untuk kabur. Dia ingin kembali ke Korea dan bertemu denganmu. Dia ingin kembali ke pelukanmu tapi dia terlalu terburu-buru hingga mengalami kecelakaan yang membuatnya koma…..”

“Cukup!!” Teriak Taeyeon, dia menutup kedua telinganya dan tanpa sadar matanya pun sudah berkaca-kaca. “Kalian percaya hal itu? Kalian percaya cerita yang dikarang pria tua itu? Kalian gila!”

Emosi Sooyoung dan Yuri kembali tersulut dengan perkataan Taeyeon, mereka hendak menyerang Taeyeon lagi namun istri mereka lebih cepat bergerak. Jessica dan Sunny mengisyaratkan suami mereka untuk diam dan membiarkan mereka yang bergerak.

Sunny melangkah mendekati Taeyeon dan mengusap bahu pria itu dengan lembut. “Kami bukan orang bodoh. Kami mendengar, menelusuri, dan mempercayai. Tuan Hwang tidak berbohong, Tae” dia memberikan sebuah kertas yang diatasnya terdapat hasil print dari sebuah berita yang didapat secara online.

Seorang calon pengantin mengalami kecelakaan mobil

Seorang calon pengantin mengalami kecelakaan saat akan kabur dari pernikahannya. Diketahui korban bernama Tiffany Hwang (22) anak dari pengusaha sukses asal Korea Selatan, Stephan Hwang.

Taeyeon tidak mampu menahan air matanya untuk keluar saat membaca kata perkata yang terpapar di atas kertas tersebut. Dia meremas kertas itu dengan kencang karena tidak sanggup lagi membacanya hingga selesai. Dia tidak ingin tahu apa yang terjadi pada Tiffany berdasarkan berita tersebut. Dia tidak ingin mempercayai perkataan teman-temannya. Dia tidak ingin kembali berurusan dengan Tuan Hwang. Dan Dia tidak ingin mengakui jika dia masih peduli pada mantan kekasihnya.

“aku tahu kau masih mencintainya. Dia membutuhkanmu Taeyeon.” Ujar Jessica pelan. Sunny pun mendekat pada Taeyeon dan memeluk pria itu.

“Kami sadar kau bukanlah Tuhan yang mampu membangkitkan seseorang dari koma dalam sekejap, tapi jika kehadiranmu bisa membuat kondisi Tiffany mengalami kemajuan, kami harap kau mau menemuinya.”

********

Taeyeon menatap dirinya di depan cermin besar seukuran tubuhnya di dalam kamar. Dia memperhatikan penampilannya dari rambut yang tersisir rapi, tubuh yang terlindungi kemeja hitam serta terikat dengan dasi abu-abu, dilapisi jas hitam mahal yang di desain khusus untuk tahan pada serangan peluru, lalu celana dengan warna yang sama serta sepatu kulit model oxford keluaran Italia.

rasanya sedikit aneh melihatmu berpakaian seperti ini. Komentar Tiffany saat mereka sedang berdansa di acara prom kampus. aku lebih suka melihatmu memakai kaus dilapisi jaket kulit dengan celana robek dan sepatu boot. Sangat Kim Taeyeon. Lanjutnya.

Taeyeon mendesah, sebenarnya aku juga tidak nyaman memakai pakaian ini. Tapi aku ingin terlihat rapi agar pantas berdampingan denganmu. Akunya. Tiffany tersenyum lebar lalu mencium bibir kekasihnya dengan cepat.

gomawo. Aku menghargainya, tapi lain kali jadilah dirimu sendiri karena aku mencintai apa adanya dirimu. Ucapnya dan membuat Taeyeon tersenyum lebar.

Taeyeon mendesah pelan lalu melepas satu persatu pakaian atasnya. Dia memperhatikan tubuhnya yang kini tak tertutupi pakaian, memandangi satu persatu ukiran yang memenuhi tubuhnya.

aku baru tahu kalau Yuri memiliki tato ujar Tiffany sambil menyuapi ice creamnya pada Taeyeon. Mereka sedang berteduh di bawah payung besar agak jauh dari bibir pantai, tempat di mana teman-temannya sedang asyik bermain air.

ya. Dia baru membuatnya.. hmm sekitar empat hari yang lalu, kurasa beritahu Taeyeon sambil membersihkan sudut bibir Tiffany dari ice cream dengan ibu jarinya.

kau tidak ikut membuat tato sepertinya? Tanya Tiffany

kau mengijinkanku?

Tiffany menggeleng. anni. Aku tidak suka kau bertato, selain mengotori tubuh bersihmu aku juga tidak ingin kau tersakiti karena jarum-jarum suntik itu jawabnya, membuat Taeyeon tersenyum lembut.

baiklah aku tidak akan mentato tubuhku Balasnya, namun tidak lama dia tersenyum jahil dan melanjutkan lagipula aku lebih suka tato alami buatanmu, di leherku

ya! byuntae!!

Taeyeon meraba dada sebelah kirinya, mengusap sebuah tato dengan ukiran kaligrafi hangul yang membentuk nama Korea Tiffany, Miyoung. Itu tato pertamanya dan dibuat tepat di posisi dimana jantungnya berada, karena baginya Tiffany bagaikan pusat kehidupannya, satu-satunya alasan mengapa jantungnya masih berdetak hingga detik ini.

Taeyeon menggerakkan tangannya untuk menyisir rambutnya. Dia melirik sebuah kartu nama yang tergeletak di samping dompetnya. Dia kembali menatap dirinya di cermin dan menghela nafas berat setelahnya.

********

“Beritahu aku apa yang terjadi sebenarnya” ujar Taeyeon dengan nada yang lebih terdengar seperti memerintah. Tatapan tajamnya tidak pernah lepas dari pria di depannya. Keduanya duduk berhadap-hadapan di dalam ruang kerja Tuan Hwang. Tidak seperti pertemuan pertama, baik Taeyeon maupun Tuan Hwang tidak mengikutsertakan bodyguard mereka untuk menemani mereka. Dua pria itu ingin perbincangan mereka tidak terdengar oleh siapapun yang tidak bersangkutan dengan masalah keduanya.

“Apa imbalannya jika aku melakukannya” tanya Tuan Hwang, memutar-mutar gelas wine yang berada di tangannya.

“Aku akan mempertimbangkan untuk menemui Tiffany” balas Taeyeon cepat.

Tuan Hwang menganggukkan kepalanya, lalu meminum winenya. “Cukup adil” dia meletakkan gelasnya ke meja lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, menatap tepat ke mata Taeyeon.

“kau tahu aku membencimu kan? Aku tidak ingin Tiffany berdekatan denganmu. Dia putriku satu-satunya dan aku ingin dia hidup bahagia dan aku pikir dia tidak akan bahagia bersamamu. Aku membawa Tiffany pergi saat dia tidur, well aku memberikannya obat tidur agar dia tidak sadar saat aku bawa pergi. Aku membuatnya tinggal di penjara yang aku sebut rumah. Di setiap sudut rumah aku siapkan penjaga agar dia tidak kabur, aku batasi pergerakannya bahkan aku menjauhkannya dari segala alat komunikasi yang bisa membuatnya menghubungimu.”

Taeyeon melebarkan matanya dan menggeleng pelan. “Kau gila” lirihnya.

“Aku tahu. Tapi aku melakukan itu demi kebaikannya”

“Kebaikan? Kau menyakitinya!!!” geram Taeyeon. Dia mengepalkan tangannya, tidak percaya dengan apa yang Tuan Hwang lakukan pada Tiffany. Bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal itu pada anaknya sendiri dan mengatakan itu untuk kebaikan. Gila.

Tuan Hwang mengangkat bahunya menanggapi kata-kata Taeyeon. “Kau benar. Aku menyakitinya. Aku memaksanya menikah dengan seorang pria yang bahkan tidak dia kenal agar dia bisa melupakanmu. Dia menolak tapi aku mengancam akan mencelakaimu. Dia menurut tapi tidak pernah berbicara padaku. Hingga waktu pernikahan tiba, aku tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan hal itu tapi saat mobilnya berhenti di lampu merah menuju ke gereja, dia memukul supirku hingga jatuh ke jalan lalu dia kabur menuju bandara dan mengalami kecelakaan saat di perjalanan. Dia selamat namun koma” jelas Tuan Hwang. Dia menghirup nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Tahun pertama dokter mengatakan kondisinya stabil namun tidak ada kemajuan. Tahun kedua aku mendatangkan semua teman-temannya berharap kehadiran mereka dapat merangsang kerja otak Tiffany. Tahun ketiga tetap tidak ada kemajuan sama sekali sampai akhirnya aku menemukan buku ini” Tuan Hwang menggeser buku yang ada di atas mejanya ke hadapan Taeyeon. “itu diary Tiffany, saat aku selesai membacanya aku sadar satu hal. Aku sudah mendatangkan seluruh temannya di Amerika tapi aku lupa mendatangkan seseorang yang berarti di hidupnya, dan sayangnya orang itu adalah dirimu, salah satu yang paling ku benci.”

Keduanya terdiam. Taeyeon mengambil buku diary Tiffany dan memperhatikannya. Memang benar itu adalah milik Tiffany. Dulu dia sering melihat Tiffany menulis sesuatu di buku itu, membuatnya penasaran tapi Tiffany tidak pernah mengijinkan dirinya untuk melihat, karena Taeyeon bukanlah seseorang yang pemaksa apalagi jika itu berurusan dengan hal pribadi maka rasa penasaran itu menguap begitu saja. Taeyeon pun kembali menatap Tuan Hwang, kali ini tatapannya melembut.

“Mengapa kau begitu membenciku?” tanyanya.

Tuan Hwang melirik Taeyeon dan kembali memalingkannya. “Aku membencimu karena kau telah mengubah Tiffanyku. Aku membencimu karena kau membuat Tiffanyku tersenyum dengan caramu. Aku membencimu karena kau merebut perhatian Tiffanyku. Dan aku membencimu karena Tiffanyku lebih memilih dirimu daripada diriku. Aku membencimu karena hal itu membuatku sadar bahwa aku sebenarnya membenci diriku sendiri. Aku tidak bisa membuatnya tersenyum, aku mengekangnya, aku memaksanya menjadi yang aku mau, aku menyakitinya…. Aku menyakiti putriku. My only child. My little princess. She’s my everything and my selfishness ruin everything!!” Tuan hwang menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak mampu lagi menahan tangisnya. Selama 7 tahun dia hanya bisa melihat anaknya berbaring tak sadarkan diri tanpa mampu berbuat apa-apa. Dan selama tiga tahun dia mencari Taeyeon, pria yang dia yakin mampu membuat putrinya kembali. Kini pria itu sudah berada di hadapannya dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.

“Taeyeon. Ku mohon temui Tiffany. Dia tidak bersalah. Amarahmu harusnya ditujukan padaku bukan padanya. Temui dia Taeyeon, beri kesempatan pada orang tua ini melihat putrinya kembali membuka mata dan tersenyum. Aku mohon.” Tuan Hwang menggenggam tangan Taeyeon dengan erat. Memohon pada pria yang dulu sangat dibencinya itu. Dia tidak lagi peduli dengan harga dirinya karena Tiffany adalah yang terpenting baginya.

Taeyeon terdiam menatap Tuan Hwang. “Aku…tidak tahu”

“Taeyeon……”

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan keras, keduanya menoleh dan mendapati salah seorang pengawal Tuan Hwang masuk dengan raut wajah yang panik dan pucat.

“Tuan, kami baru mendapat kabar bahwa Nona Hwang mengalami kejang hebat dan denyut jantungnya melemah!”

“Bagaimana bisa?!!!!!” teriak Tuan Hwang. “Siapkan pesawat. Kita kembali sekarang!!!” perintahnya. Dia menoleh pada Taeyeon yang terdiam membisu lalu pergi meninggalkannya. Setelah Tuan Hwang pergi Taeyeon tidak mampu lagi menahan air matanya. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah dia menemui Tiffany? Apakah dia siap ditinggal untuk kedua kalinya oleh wanita yang masih dia cintai?

********

Tuan Hwang tidak melepas tangan putrinya sejak kondisi Tiffany dinyatakan kembali normal. Dia tidak pergi sejengkal pun dari sisi Tiffany karena takut hal buruk akan terjadi lagi pada gadis kesayangannya itu. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang lelah karena dia ingin selalu menjaga putrinya. Hingga sebuah ketukan mengalihkan perhatian Tuan Hwang. Dia menunggu untuk orang itu masuk.

“Tuan, ada seseorang yang ingin menjenguk Nona Hwang” lapor salah satu pengawalnya. Tuan Hwang menaikkan satu alisnya.

“siapa?” pertanyaannya langsung terjawab saat melihat seorang pria yang tidak asing lagi baginya masuk ke dalam ruangan dengan senyum kecil di wajahnya.

“maaf jika kedatanganku terlalu lama. Butuh waktu untuk mempersiapkan ini” ujar Taeyeon seraya menggerakkan tangannya dari atas ke bawah untuk menjelaskan maksudnya.

Tuan Hwang pun ikut tersenyum dan berdiri dari duduknya. “aku menghargai usahamu. Aku rasa dia akan sangat senang melihatnya.”

“tentu saja, inilah yang membuatnya menyukaiku” balas Taeyeon seraya tertawa kecil yang juga dibalas tawa ringan oleh Tuan Hwang. Pria yang lebih tua itu pun menepuk bahu Taeyeon dan pergi dari ruangan tersebut, memberikan private time untuk tamu spesial anaknya tersebut.

Taeyeon melangkah pelan mendekati Tiffany yang berbaring di kasurnya. Dia berdiri di samping Tiffany dan memperhatikan wanita itu. Tidak ada yang berubah dari Tiffany, wajahnya masih tetap secantik yang mampu Taeyeon ingat hanya bibirnya sedikit pucat dan tubuhnya tidak lagi berisi. Taeyeon duduk di bangku yang tadi diduduki oleh Tuan Hwang. Dia meraih tangan Tiffany lalu menggenggamnya dengan erat dan mengusap keningnya menggunakan ibu jarinya yang bebas.

“Apa kabar Hwang?” sapanya namun hanya keheningan yang menjawab.

“Neol..jeongmal… Bagaimana bisa kau masih begitu menyebalkan setelah bertahun-tahun lamanya kita tidak bertemu Hwang?” Taeyeon akhirnya membuka percakapan.

“lihatlah, kau membuatku mengobrak-abrik lemari pakaian lamaku hanya untuk menemuimu. Tch… Yul dan Sooyoung pasti akan menertawakanku jika mereka melihatku saat ini dan kau…. kau pasti tidak akan membelaku justru kau akan ikut tertawa dengan mereka… iya kan? Aku benarkan?” Taeyeon mengusap pipinya yang basah terkena air mata yang keluar tanpa seijinnya.

“kau tahu, kau sangat jahat. Kau membuatku menangis untuk pertama kalinya di usiaku yang hampir mencapai kepala tiga” Taeyeon melepaskan tawa kecilnya. Dia menggenggam tangan Tiffany dengan kedua tangannya dan menciuminya berkali-kali. Dia sangat merindukan wanita itu.

“maaf karena aku tidak berusaha mencarimu. Aku terlalu dibutakan oleh emosi dan prasangka burukku dan tidak mencoba untuk mengerti dari sisimu. Aku terlalu merasa tersakiti sampai aku tidak sadar kalau kau juga tersakiti. Sekarang aku sudah di sini Fany-ah. Lakukanlah hal yang ingin kau lakukan padaku, pukul aku, tampar aku, gigit bahuku, tarik rambutku juga telingaku apapun itu asal aku bisa melihat mata indahmu terbuka lagi.” Ujarnya dengan suara yang serak menahan tangis.

“Kau tahu, sejak kau pergi meninggalkanku aku tidak pernah percaya pada Tuhan dan memilih hidup melanggar aturannya. Sekarang, aku kembali memohon pada Tuhan untukmu, aku berjanji padanya akan meninggalkan semua kehidupanku saat ini dan memulainya dari awal lagi denganmu. Aku tidak peduli jika daddymu masih tidak menerima hubungan kita. Aku akan memperjuangakanmu, aku akan melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan dahulu. Jadi aku mohon bangunlah, buat aku kembali menjadi Taeyeon yang dulu, dan berada di sisiku sampai kita menua dengan rambut yang berubah menjadi putih seluruhnya. Kau masih mencintaiku, kan? Karena aku masih mencintaimu, tidak berkurang sedikitpun. Ayo bangun Tiffany. Buka matamu dan lihat aku”

********

[EPILOG]

.

.

“Appa! Appa!” seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang memiliki wajah sama persis berlarian ke dalam rumah mencari sosok pria yang merupakan ayah mereka. Keduanya berlari ke arah dapur dan tersenyum saat melihat pria yang mereka cari ada di sana, mengenakan pakaian rumahnya dan apron biru favoritnya.

“appa!” mereka berdua teriak mengagetkan pria itu.

“ya! Kalian mengagetkanku saja” pria yang tidak lain adalah Taeyeon itu mengusap dadanya dan menatap tajam keduanya. Tapi dua anak kecil itu hanya tertawa, merasa tak bersalah.

“appa lihat! Kami menemukan banyak kumbang di taman belakang”

Taeyeon mengambil kotak kaca yang ditunjukkan dua anak itu dan memperhatikan isinya. “woaaah kalian luar biasa” pujinya dan tidak lupa menunjukkan ibu jarinya, membuat kedua kakak beradik itu tersenyum lembar sampai…

“YA TUHAN! KIM TAEYOUNG! KIM YEONMI!” teriakan histeris itu berasal dari wanita berambut hitam panjang yang berdiri sambil bertolak pinggang. Wanita bertubuh ramping itu mendekati dua anaknya dengan tatapan tajam. “apa yang kalian lakukan? Tubuh kalian penuh dengan tanah dan rumput seperti itu. Cepat mandi dan berpakaian, sebentar lagi Haraboji dan Halmeoni serta Hayeon immo akan datang”

Wajah kedua anak itu menjadi cerah, “apa grandpa juga akan datang, mom?” tanya Taeyoung.

“tentu saja. Sekarang cepatlah kalian mandi” perintah wanita tersebut. Kedua anak itu mengangguk patuh dan berlari ke kamar masing-masing. Sepeninggal mereka wanita itu menghela nafas pelan dan memijat keningnya.

“kenapa mereka nakal sekali. Ini pasti karena mereka anakmu, Kim Taeyeon”

Taeyeon mendelik. “ya Kim Miyoung, kita berdua yang membuatnya jadi tidak mungkin hanya ada genku saja oke.”

“aku tidak ingat kalau aku nakal seperti itu. Aku anak baik.”

“well.. kau sangat nakal sayang. Saat di kamar”

Tiffany memukul perut Taeyeon hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan. Tiffany pun berlalu menuju counter dan melanjutkan masakan suaminya. Taeyeon tersenyum kecil lalu melingkarkan tangannya di perut Tiffany dan menyembunyikan wajahnya di leher istrinya tersebut.

Dia sangat bersyukur pada Tuhan karena sudah memberikan kesempatan padanya untuk bisa memiliki wanita yang sangat dicintainya itu. Setelah kedatangannya saat itu tubuh Tiffany memberikan kemajuan yang baik, dia mulai bisa merespon keadaan di sekitarnya dengan menggerakkan jemarinya, butuh waktu beberapa bulan sampai keajaiban itu datang. Tiffany akhirnya membuka matanya tepat di hari ulang tahunnya.

Selama masa penyembuhan, Taeyeon dan Tuan Hwang tidak pernah mengalihkan perhatian mereka dari Tiffany. Dan Taeyeon pun menceritakan semua hal yang terjadi padanya selama Tiffany pergi meninggalkannya, mulai dari Perekrutannya hingga diangkat menjadi bos besar sebuah kelompok gangster terbesar di Korea, pengasingan kedua orangtua serta adiknya ke luar negeri agar mereka tidak terlibat pertikaian antara Taeyeon dengan musuh-musuhnya, kecanduannya pada tato dan pertemuannya dengan Tuan Hwang.

Saat mendengar semua itu Tiffany tidak berhenti menangis karena merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Taeyeon. Dia tidak menyangka jika Taeyeon akan benar-benar menghancurkan hidupnya karena dia tinggalkan. Setelah kondisi Tiffany dinyatakan seratus persen membaik Taeyeon pun menepati janjinya untuk meninggalkan kehidupan hitamnya dan memulai kembali semuanya dari awal. Dengan bantuan Yuri dan Sooyoung, Taeyeon membuat sebuah studio rekaman untuk para band-band indie dan membantu mereka dalam menciptakan lagu. Lambat laun studio rekaman Taeyeon berkembang pesat dan sekarang tidak hanya band indie saja yang sering melakukan rekaman di sana tapi band dan grup dari perusahaan besar pun tidak segan memakai jasa Taeyeon. Namanya juga sering muncul sebagai credit di album mereka atas lagu yang dia ciptakan. Dan selama itu pula Tiffany selalu berada di sisi Taeyeon untuk menyemangatinya saat pria itu dalam kondisi buruk maupun baik.

Keduanya memutuskan untuk menikah saat usia mereka memasuki umur 35 tahun. Awalnya Taeyeon tidak memaksa Tiffany untuk hamil karena masih teringat dengan trauma istrinya tersebut tapi entah apa yang membuat Tiffany mengubah pirikannya dan membuat wanita itu memutuskan untuk mengambil resiko mempertahankan kandungannya hingga 9 bulan. Sampai akhirnya lahirlah Kim Taeyoung, putra tampan mereka yang disusul beberapa detik oleh Kim Yeonmi, putri cantik mereka.

“aku mencintaimu” bisik Taeyeon. Tiffany tersenyum mendengarnya, dia membalikkan tubuhnya dan menatap suaminya dengan sayang.

“bisakah kau mengatakan kata-kata lain? Karena aku sudah tahu kalau kau mencintaiku, Pak Tua” goda Tiffany yang membuat Taeyeon tertawa kecil. Dia meletakkan tangannya di pinggang Tiffany dan menatap tepat ke matanya yang indah.

“bagaimana jika aku ganti menjadi ‘aku ingin bercinta denganmu’?”

Taeyeon meringis saat pinggangnya dicubit oleh Tiffany. “wae~~?”

Tiffany menggeleng pelan dan menghela nafas. “kau dan pikiran pervertmu. Kau yakin tidak tidur dengan siapapun selama aku pergi? You owned a f*cking prostitute house… mustahil bagi orang sepervert dirimu tidak tergoda pada salah satu anak buahmu” Tiffany menundukkan kepalanya karena takut kalau Taeyeon berbohong mengenai masa lalunya.

Taeyeon menghela nafas dan menangkup wajah Tiffany, memaksa istrinya untuk menatap dirinya. “Percaya padaku, tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiranku untuk meniduri mereka atau wanita lainnya. Bagaimana bisa aku melakukan itu jika aku selalu membandingkan wanita yang aku temui dengan dirimu, mereka tidak secantik dirimu, mata mereka tidak seindah dirimu, tubuh mereka tidak seseksi dirimu dan aku yakin seratus persen bahwa kemampuan mereka di atas kasur tidak selihai dirimu” Taeyeon menyengir saat Tiffany menampar punggungnya, tapi dia tetap melanjutkan. “tidak pernah terlintas di kepalaku untuk mencari wanita lain. Karena hanya ada satu wanita yang aku inginkan seumur hidupku yaitu dirimu, Nyonya Kim” Taeyeon mencium kening Tiffany, lalu turun ke hidungnya dan beralih ke bibirnya. Tiffany meletakkan tangannya di dada Taeyeon saat suaminya memperdalam ciuman mereka. Tiffany pun mengikuti permainan Taeyeon dengan menyesap bibir atas dan bawah Taeyeon secara bergantian. Taeyeon memasukkan lidahnya yang disambut hangat oleh Tiffany dan membuat ciuman mereka semakin panas. Tangan Taeyeon yang berada di pinggang Tiffany pun bergerak ke atas menuju ke dada Tiffany dan saat sampai di tengah wanita itu berhasil menghentikannya.

“wae~” keluh Taeyeon.

“behave Mr. pervert. Beberapa jam lagi orangtua dan adikmu serta daddyku akan tiba. Kita selesaikan dulu urusan kita dengan mereka dan nanti malam baru kita selesaikan urusan kita” Tiffany mengerlingkan matanya pada Taeyeon yang langsung menghadirkan senyuman penuh arti di wajah suaminya itu.

“kalau begitu aku akan menelepon mereka dan menyuruh mereka untuk datang sekarang juga, jadi acaranya akan cepat selesai” ujar Taeyeon lalu melesat menuju ruang tv meninggalkan Tiffany yang tersenyum geli melihat tingkah suaminya tersebut.

“I love you, Kim Taeyeon. Forever” bisiknya.

THE END

 

Taeyoung = TAEyeon + miYoung

YeonMi = taeYEON + MIyoung

Huahahahahahahaha…. Biar beda gitu ya anaknya TaeNy, jangan SeoHyun melulu

Hmmm dengan berakhirnya ff ini jadi aku udah nggak ada utang update ya dan itu artinya aku akan hiatus dengan tenang.

Doain semoga skripsi aku lancar ya, biar bisa nulis lagi.

Terima Kasih buat semua reader yang selalu setia main ke wp aku yang jarang banget update, baca komen kalian itu kayak suntikan vitamin buat aku dan kalian ngebuat aku semakin suka nulis, nggak peduli seberapa pusingnya nyari ide dan nyusun kata-katanya.

Soooooo…hmm See you next time *ciuuuuuuuuuummmmmmmm*

[TwoShoot] I Just Need You: Stay (End)